KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menggulirkan program bantuan ternak untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian peternak lokal. Tahun ini, bantuan kambing diberikan kepada 19 kelompok tani yang tersebar di berbagai kecamatan di Kukar.
Staf Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanak Kukar, Nelva Aflinda, menjelaskan bahwa bantuan tersebut bersumber dari dua jenis anggaran, yaitu anggaran murni dinas dan anggaran pokok pikiran (pokir) anggota DPRD.
“Untuk anggaran dinas sendiri, ada 13 kelompok penerima yang tersebar di Kecamatan Anggana, Tenggarong, Tenggarong Seberang, Muara Kaman, Kenohan, dan Kota Bangun Darat,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).
Selain itu, ada pula bantuan khusus dari anggaran pokir yang diberikan kepada 6 kelompok di Kecamatan Muara Kaman dan Muara Kaman Seberang. Masing-masing kelompok menerima kambing jenis unggulan sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan setempat.
Nelva menjelaskan, jenis kambing yang disalurkan antara lain kambing Bur (Boer) dan kambing Peranakan Etawa (PE). Keduanya dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan di Kukar.
“Kambing Bur lebih unggul untuk pedaging karena bentuk tubuhnya besar dan tahan penyakit. Sementara kambing PE bisa menghasilkan susu dan daging sekaligus, sehingga memberi nilai tambah bagi peternak,” terangnya.
Menurutnya, baik kambing Bur maupun PE kini semakin dikenal masyarakat. Permintaan terhadap bibit lokal terus meningkat karena lebih mudah beradaptasi dibanding bibit dari luar daerah, seperti Jawa, yang cenderung rentan terhadap penyakit dan butuh waktu pemulihan lebih lama.
Distanak Kukar juga memberikan pendampingan teknis kepada setiap kelompok penerima. Sebelum menerima bantuan ternak, para peternak disarankan untuk menanam hijauan pakan unggul, seperti Indigofera, Pakchong, dan Gamal, guna memastikan ketersediaan nutrisi yang cukup bagi kambing.
“Kami memang tidak menyediakan bantuan pakan langsung, tetapi kami arahkan agar kelompok menanam pakan sendiri. Ini lebih berkelanjutan dan bisa menekan biaya pemeliharaan,” kata Nelva.
Untuk memastikan perkembangan bantuan, Distanak Kukar membentuk grup WhatsApp khusus untuk tiap kelompok penerima. Melalui grup ini, peternak wajib melaporkan kondisi ternaknya, termasuk kelahiran dan kematian kambing.
“Setiap kelompok punya perwakilan yang aktif di grup WA. Dari situ kami bisa memantau, mana kelompok yang berhasil mengembangkan bantuan,” tambahnya.
Nelva menuturkan, kelompok tani yang menunjukkan perkembangan baik akan mendapat perhatian lebih dan peluang bantuan tambahan pada program berikutnya. Tahun ini, misalnya, beberapa kelompok juga memperoleh bantuan alat pertanian seperti chopper untuk mempermudah pengolahan pakan.
“Kalau dulu mereka harus mencacah pakan manual setiap hari, sekarang bisa pakai chopper. Jadi kerja lebih efisien, ternak pun lebih terawat,” ungkapnya.
Ia berharap program bantuan ternak kambing ini dapat meningkatkan produktivitas peternak sekaligus kesejahteraan masyarakat pedesaan.
“Kami ingin peternak di Kukar mandiri, mampu mengembangkan ternaknya sendiri, dan menjadi contoh bagi kelompok lain,” pungkas Nelva. (WAN/ADV)










