KUKAR, LINGKARKALTIM: Perumda Tirta Mahakam menargetkan tahun ini sebagai momentum percepatan dan perubahan besar dalam peningkatan pelayanan air bersih di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno mengatakan bahwa anggaran untuk 2026 sudah disetujui.
“Alhamdulillah, anggaran tahun 2026 juga sudah disetujui oleh Bupati Kutai Kartanegara. Tahun 2026 ini menjadi target kami untuk melakukan percepatan dan perubahan, sebagaimana yang disampaikan Pak Bupati,” ucap dia, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, fokus utama Perumda Tirta Mahakam adalah percepatan pelayanan air bersih yang menjangkau seluruh wilayah Kukar.
Meski demikian, dia tidak menampik masih adanya sejumlah kendala yang dihadapi, terutama terkait kinerja penurunan non-revenue water (NRW) atau tingkat kehilangan air.
“Saat ini NRW kami masih berada di angka 42 persen, sementara standar nasional berada di angka 25 persen. Inilah yang menjadi fokus percepatan kami,” kata Suparno.
Menurut dia, tingginya angka NRW menjadi tantangan serius karena berdampak langsung terhadap kualitas dan kontinuitas pelayanan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, penurunan kebocoran air ditetapkan sebagai target utama kinerja Perumda Tirta Mahakam, khususnya pada semester awal tahun 2026.
“Kami berharap pada semester awal tahun 2026 sudah terlihat perubahan yang signifikan,” sebutnya.
Sebagai langkah konkret, Perumda Tirta Mahakam telah menggandeng sejumlah mitra melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang berpengalaman dalam penanganan NRW.
Program penurunan kebocoran tersebut telah berhasil diterapkan di beberapa daerah lain, dan diharapkan dapat direplikasi secara optimal di Kukar.
“Program ini sudah berhasil di daerah lain, dan kami ingin kinerja serupa bisa diterapkan di Kukar,” ungkap dia.
Ia menegaskan bahwa persoalan NRW bukan hanya berkaitan dengan kehilangan air secara fisik, tetapi juga berdampak pada aspek keuangan perusahaan.
Kebocoran air berarti potensi pendapatan yang seharusnya diterima perusahaan menjadi hilang.
“Sebagaimana disampaikan Pak Bupati, NRW ini bukan hanya soal kehilangan air, tetapi juga kehilangan pendapatan. Air yang bocor berarti pendapatan yang seharusnya masuk ke perusahaan tidak terealisasi,” terang Suparno.
Selain itu, tingginya NRW juga memengaruhi kontinuitas dan tekanan air yang diterima pelanggan.
Kebocoran di jaringan distribusi menyebabkan tekanan air tidak optimal, sehingga berdampak pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“NRW sangat memengaruhi kontinuitas pelayanan. Tekanan air yang seharusnya optimal menjadi terganggu akibat kebocoran. Karena itu, penurunan NRW menjadi target utama kinerja kami pada semester awal 2026,” pungkasnya. (ASR)










