KUKAR, LINGKARKALTIM: Upaya penguatan pendidikan karakter di sekolah terus didorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya melalui edukasi peduli lingkungan, seperti yang dilakukan SMP Negeri 3 Tenggarong dengan menjalin kerja sama (MoU) bersama bank sampah di Kelurahan Mangkurawang.
Plt. Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kukar, Emy Rosana Saleh, menyebutkan langkah ini sejalan dengan semangat membangun kesadaran siswa terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
“Itu bagian dari penguatan karakter. Semua elemen, mulai dari pemerintah kabupaten, OPD teknis, hingga sekolah, mendorong hal yang sama agar anak-anak terbiasa melakukan kebiasaan baik, termasuk soal membuang sampah,” jelasnya pada Selasa (16/9/2025).
Menurut Emy, dalam satu minggu, bank sampah di Mangkurawang bahkan mampu mengumpulkan hingga 42 kilogram sampah plastik. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi sekolah dan komunitas lingkungan dapat memberikan hasil nyata sekaligus mengedukasi siswa mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Ia menambahkan, sejak awal masuk sekolah, siswa sudah perlu dikenalkan dengan kebiasaan baik terkait lingkungan. Melalui masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), guru dan siswa dapat menyepakati regulasi serta komitmen bersama, termasuk disiplin membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi sampah plastik.
“Disdikbud juga sudah membuat jurnal kebiasaan baik yang harus diterapkan oleh anak-anak. Jadi memang sejak dini mereka diarahkan untuk memiliki karakter positif, bukan hanya dalam akademik, tetapi juga dalam hal peduli lingkungan,” tambahnya.
Selain SMPN 3 Tenggarong, Emy juga menyoroti sejumlah sekolah lain yang aktif dalam inovasi lingkungan. Salah satunya SMPN 6 Tenggarong yang berhasil mengembangkan program Adiwiyata dengan berbagai inovasi, termasuk pengolahan sampah dan pembuatan asam amino dari bahan organik.
“Setiap sekolah punya ciri khas masing-masing. Ada yang fokus pada pengelolaan sampah, ada yang menciptakan inovasi baru. Itu semua menunjukkan bahwa sekolah-sekolah kita sebenarnya bergerak ke arah penguatan karakter berbasis lingkungan,” kata Emy.
Dengan gerakan kolektif ini, ia berharap siswa Kukar tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kesadaran lingkungan yang kuat.
“Kalau anak-anak terbiasa sejak SMP, maka nilai karakter peduli lingkungan ini akan melekat sampai mereka dewasa,” tutupnya. (WAN/ADV)










