KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya menyiasati keterbatasan anggaran dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana pendidikan yang masih layak pakai. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengumpulkan dan mendistribusikan kursi dan meja sekolah lama ke sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrillian Noor, saat diwawancarai Rabu (6/8/2025). Menurutnya, selama kondisi fisik kursi dan meja masih memungkinkan digunakan, maka akan dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali ketimbang harus membeli baru.
“Kita efisiensikan dulu kursi yang masih bisa dipakai. Seperti di SMP 9, mereka tidak kita beri kursi baru, tapi kita kumpulkan dari sekolah lain yang masih layak pakai,” jelasnya.
Kebijakan ini dilakukan untuk menekan belanja daerah, terutama di tengah keterbatasan anggaran yang sebagian besar masih terserap untuk belanja pegawai. Namun demikian, ia menegaskan bahwa kelas atau ruang belajar baru tetap akan dilengkapi sarana dasar, termasuk kursi dan meja.
“Kalau kita bangun unit sekolah baru atau ruang belajar baru, tentu wajib kita lengkapi kursinya. Tapi tetap kita lihat stok dulu. Kalau masih cukup, kita manfaatkan yang ada,” ujarnya.
Proses penghitungan ketersediaan sarana sekolah terus dilakukan oleh Disdikbud Kukar. Beberapa sekolah dengan kelebihan kursi akan menjadi sumber distribusi bagi sekolah lain yang membutuhkan, dengan catatan kursi tersebut masih dalam kondisi baik.
“Kita hitung dan petakan dulu. Sekolah mana yang masih punya stok, dan sekolah mana yang kekurangan. Yang penting masih layak pakai,” tambahnya.
Langkah ini menurut dia adalah bagian dari kebijakan efisiensi yang tetap memperhatikan pelayanan pendidikan dasar. Ia juga menyampaikan bahwa penambahan gedung sekolah tetap menjadi prioritas, namun harus dibarengi dengan perencanaan kebutuhan sarana prasarana secara realistis.
“Sekarang kita juga membangun gedung sekolah baru. Masa iya tidak ada kursinya? Jadi ya harus seimbang antara pembangunan fisik dengan kelengkapan interiornya,” katanya.
Meski tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan secara instan, Disdikbud berkomitmen untuk terus mencari solusi yang tepat agar operasional dan kenyamanan belajar siswa tetap terjamin.
“Kita memang belum bisa membelikan kursi baru untuk semua sekolah, tapi setidaknya yang penting fungsinya bisa berjalan dulu,” tegasnya.(IDN/ADV)










