Disdamkarmatan Kukar Hadapi Keterbatasan Sapras

Kepala Disdamkarmatan, Fida Hurasani, Sabtu (29/8/2026) (Rizki/Lingkarkaltim)
Kepala Disdamkarmatan, Fida Hurasani, Sabtu (29/8/2026) (Rizki/Lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM : Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar mengaku kesulitan menghadapi musim kemarau. Pasalnya, musim kemarau ini sangat berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahanm selain itu kondisi kemarau memberikan dampak terhadap usaha sektor pertanian, perkebunan hingga perikanan.

Kepala Disdamkarmatan Kukar Fida Hurasani mengatakan, selama musim kemarau ini banyak laporan dari masyarakat teradap peristiwa kebakaran lahan, minta suply air untuk kawasan perikanan dan pertanian.

Read More
banner 300x250

“Setiap hari laporan minimal ada 5-10 orang dari Mako hingga pos Damkar tingkat Kecamatan,” kata Fida Hurasani pada Lingkarkaltim, Sabtu (29/8/2026).

Sehingga Disdamkarmatan kualahan dalam melayani atau menanggapi laporan masyarakat. Hal itu karena seluruh sarana dan prasarana telah digunakan.

“Kita perlu penambahan sapras seperti selang, mesin dan lainnya. Ini untuk menghadapi geografis yang sulit diakses,” ucapnya.

Ia mengaku, sejauh ini seluruh Kecamatan di Kukar membutuhkan pelayanan Damkar atau suplay air.

“Keluhan warga ini langsung direspon oleh Bupati Kukar, bahwa pemerintah daerah akan melakukan penambahan sapras untuk Damkar, dalam menyikapi musim kemarau ini,” akunya.

Sementara itu Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kukar Muslik menyebutkan, akibat musim kemarau ini para pelaku usaha ikan dan pembudidaya ikan melaporkan kesulitan air ke pemerintah daerah.

“Kawasan sentral perikanan di Loa Kulu ini sebagian besar terdampak akibat kemarau,” sebut Muslik.

Pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, untuk suplay air kepada pelaku usaha ikan. Agar ikan tersebut tidak gagal panen.

Terpisah, pembudidaya ikan Heri Susanto menjelaskan, musin kemarau ini telah dirasakan sejak Maret 2026 hingga saat ini. Selama ini kolam budidaya ikan ini hanya mengandalkan tadah hujan.

“Sehingga untuk menyiasati persoalan ini, kami menggunakan sumur bor yang dibantu dengan pompanisasi,” jelas Heri Susanto.

Meskipun menggunakan sumur bor, debit air juga berkurang. Sehingga ini menjadi khawatir dalam menjalankan usaha perikanan. (riz)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *