Desa Pela Usung Konservasi Pesut Mahakam untuk Ikuti Best Tourism Village 2027

Mamalia air tawar Kaltim, Pesut Mahakam. (Detik.com)
Mamalia air tawar Kaltim, Pesut Mahakam. (Detik.com)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun mulai menyiapkan langkah untuk membawa potensi wisata berbasis lingkungan ke panggung internasional.

Desa yang selama ini dikenal dengan kekayaan ekosistem perairannya itu menargetkan dapat mengikuti ajang Best Tourism Village 2027 dengan mengusung konsep ekowisata dan konservasi Pesut Mahakam.

Read More
banner 300x250

Bagi Desa Pela, keikutsertaan dalam ajang tersebut bukan sekadar mengejar pengakuan sebagai desa wisata terbaik.

Konservasi Pesut Mahakam justru ditempatkan sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bekayuh Baumbai Desa Pela, Alimin mengatakan bahwa persiapan mulai diarahkan pada penguatan konsep ekowisata yang menjadikan lingkungan sebagai bagian utama dari daya tarik desa.

“Insyaallah dengan bermodal itu, pada 2027 Desa Pela bisa mewakili Indonesia bersama beberapa desa lainnya dalam Best Tourism Village. Target kami sekarang memang ke tingkat dunia,” tutur dia, Jumat (28/8/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan Pesut Mahakam menjadi salah satu kekuatan yang ingin ditonjolkan Desa Pela.

Mamalia air tawar tersebut tidak hanya dipandang sebagai objek yang menarik wisatawan, tetapi juga menjadi indikator penting keberlanjutan ekosistem perairan.

Karena itu, pengembangan wisata di Desa Pela menurutnya harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga habitat pesut.

“Pesut ini memang daya tariknya sangat bagus untuk ekowisata. Tetapi harus diingat, pariwisata itu tidak boleh merusak lingkungan. Pesut ini termasuk bagian dari keberlanjutan lingkungan,” ujar Alimin.

Dia menilai bahwa konsep tersebut menjadi penting karena Desa Pela tidak ingin menjadikan pesut sekadar komoditas wisata.

Keberadaan mamalia tersebut harus tetap dijaga agar aktivitas pariwisata tidak justru mengancam habitat dan kelangsungan hidupnya.

Ia menyebut Desa Pela telah ditetapkan sebagai desa konservasi Pesut Mahakam oleh Menteri Lingkungan Hidup.

Status tersebut menjadi salah satu modal yang ingin diperkuat dalam persiapan menuju ajang Best Tourism Village.

Menurutnya, konservasi yang telah berjalan di tingkat masyarakat dapat menjadi gambaran bahwa pengembangan pariwisata Desa Pela tidak hanya berorientasi pada kunjungan wisatawan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

“Target kami sekarang bukan lagi nasional, tetapi bagaimana Desa Pela ini bisa membawa ekowisata sampai ke dunia tahun depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan mengatakan pihaknya menyambut baik upaya Desa Pela untuk mengikuti Best Tourism Village 2027.

Menurutnya, keikutsertaan Desa Pela dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi wisata Kukar melalui pendekatan yang memiliki karakter khusus, yakni ekowisata dengan Pesut Mahakam sebagai salah satu daya tarik utama.

“Alhamdulillah, kita turut bangga karena salah satu Pokdarwis kita bisa mengikuti ajang itu. Apalagi yang ditampilkan merupakan sesuatu yang spesifik, yaitu hewan endemik Pesut Mahakam,” kata dia.

Ia menjelaskan, dukungan Dispar Kukar akan diarahkan sesuai kemampuan pemerintah daerah.

Salah satunya melalui penguatan promosi serta penyediaan data yang diperlukan dalam proses penilaian.

“Kalau support di tengah keterbatasan sekarang, kita mungkin menyampaikan informasi dan promosi, kemudian menyampaikan data-data yang diminta oleh juri yang menilai,” ujar Awang Agus.

Di balik peluang tersebut, lanjut dia, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kondisi ekosistem perairan yang menjadi habitat Pesut Mahakam.

Misalnya, kondisi Danau Semayang yang semakin dangkal. Kondisi tersebut pun tentu dapat memengaruhi pergerakan pesut yang membutuhkan kawasan perairan dengan kedalaman tertentu untuk mencari makan dan bergerak.

“Sebenarnya yang harus kita pikirkan adalah bagaimana menjaga ekosistem pesut itu sendiri. Apalagi yang kita ketahui, Danau Semayang semakin dangkal, sehingga penanganan terhadap pesut juga harus lebih ekstra,” jelasnya.

Awang Agus menilai bahwa persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis konservasi tidak dapat berdiri sendiri.

Ketika Pesut Mahakam dijadikan salah satu kekuatan promosi, kondisi habitatnya juga harus menjadi perhatian.

Sebab, semakin banyak wisatawan yang datang untuk melihat pesut, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan aktivitas wisata tidak mengganggu kehidupan satwa tersebut.

“Yang kita takutkan, nanti pesut masuk ke sungai yang lebih besar, sementara kita tahu lalu lintas ponton dan berbagai aktivitas lainnya cukup berisiko terjadi persinggungan dengan mamalia tersebut,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *