KUKAR, LINGKARKALTIM: Berawal dari sekadar memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga, Hartoni (34) kini sukses mengembangkan bisnis ayam petelur bernama Jumadi Farm. Usaha yang berlokasi di Jalan Gunung Pegat, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) ini telah berjalan selama delapan tahun dan terus berkembang pesat.
Hartoni menceritakan, bisnisnya bermula secara tidak sengaja dari pemeliharaan beberapa ekor ayam di area rumah. Telur segar hasil panen harian yang melimpah kerap ia bagikan ke tetangga sekitar.
“Awalnya skala rumahan beberapa ekor saja untuk kebutuhan harian supaya tidak beli telur. Ternyata telurnya segar dan tetangga suka. Dari situ mulai menambah populasi sampai sekarang,” ujar Hartoni, Rabu (19/8/2026).
Saat ini, Jumadi Farm mengelola sekitar 5.000 ekor ayam petelur yang terbagi di dua lokasi. Sebanyak 1.000 ekor berada di kandang belakang rumahnya, sementara 4.000 ekor sisanya ditempatkan di lokasi L. Produksi harian terbilang sangat produktif dari populasi 1.000 ekor ayam di belakang rumah, ia mampu memanen sekitar 980 butir telur setiap hari dengan pola pemberian makan dua kali sehari.
Untuk saluran distribusi, Hartoni memilih memperkuat pasar lokal. Pasokannya menyasar pasar tradisional, warung kelontong, tetangga sekitar, hingga reseller di kawasan Pasar Tangga Arung. Bahkan, produknya telah menembus ritel modern seperti Indomaret melalui kerja sama dengan mitranya.
Meski begitu, perjalanan usahanya tak lepas dari hambatan. Perubahan cuaca ekstrem dan ancaman penyakit menjadi tantangan utama yang harus diwaspadai.
“Saat cuaca panas terik, tingkat stres ayam jadi tinggi. Cara menyiasatinya dengan pemberian vitamin rutin agar ayam tidak stres dan produksi telur tidak merosot,” jelasnya.
Di luar tantangan teknis peternakan, kondisi ekonomi saat ini menjadi ujian tersendiri bagi peternak lokal. Hartoni mengeluhkan impitan ganda akibat lonjakan harga pakan yang tidak sebanding dengan penurunan harga jual telur di pasaran.
Harga pakan yang semula Rp380.000 per karung kini melambung hingga Rp435.000. Padahal, untuk populasi 500 ekor ayam saja dibutuhkan satu karung pakan per hari.
Di sisi lain, harga jual telur justru merosot tajam. Telur Omega yang biasa dijual Rp70.000 per piring turun menjadi Rp55.000. Sementara telur biasa di tingkat kandang yang normalnya berada di angka Rp57.000 per piring kini anjlok ke Rp45.000.
“Selisih harga pakan jauh sekali. Bagi pengusaha skala rumahan pasti sangat terasa dampaknya,” tambah Hartoni.
Fenomena dinamika pasar telur ini turut mendapat perhatian dari Plt Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah. Ia menilai hadirnya varian telur Omega di pasaran memberikan alternatif menarik bagi konsumen, khususnya segmen menengah ke atas.
“Telur Omega ini ibarat beras premium. Pakannya khusus dengan perlakuan berbeda, sehingga warna kuning telurnya lebih jingga dan kaya vitamin. Harganya memang lebih tinggi, rata-rata Rp65.000 sampai Rp70.000 per piring, cocok untuk konsumen dengan kebutuhan khusus atau alergi telur biasa,” pungkas Sayid. (Dil)










