KUKAR, LINGKARKALTIM : Kasus stunting di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara mencapai 30 persen.
Angka tersebut nengalami penurunan dibanding pada 2024 lalu mencapai 43 persen.
Kepala Puskesmas Muara Wis Ramsyah mengatakan, penanganan stunting ini menjadi perhatian serius oleh seluruh pihak termasuk fasilitas kesehatan. Kecamatan Muara Wis menjadi stunting tertinggi dari Kecamatan lainnya di Kukar.
“Karena geografisnya tak luas dan jumlah penduduknya sedikit, kalau kecamatan lainnya bisa saja jumlah stuntingnya lebih banyak dari Muara Wis,” kata Ramsyah pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Kamis (13/8/2026).
Ia mengaku, saat ini ada sekitar 80 balita yang terindikasi stunting. Balita di Muara Wis saat ini hanya sekitar 600 jiwa.
“Di 2024 lalu stunting di Muara Wis 216 jiwa. Penurunan angka stunting ini pastinya atas kerja bersama baik dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah hingga dunia usaha,” akunya.
Adapun intervensi penanganan stunting meliputi, memberikan Manakan Bergizi kepada ibu hamil dan anak. Ibu-bapak asuh, kolaborasi dengan dunia usaha dan lainnya.
“Kita juga melakukan sosialisasi kepada remaja, ibu hamil dan orangtua yang memiliki balita, agar tidak terjadi stunting,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Tim Kerja Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Serianti menjelaskan, kasus stunting di Kukar tersebar di selurub Kecamatan. Tapi stunting yang tertinggi berada di zona hulu dan pesisir.
“Kecamatan tinggi stunting seperti Kecamatan Muara Wis, Muara Muntai dan Kenohan. Kami terus melakukan intervensi terhadap kasus stunting di Kukar,” jelas Serianti.
Adapun intervensi tersebut meliputi, gerakan pengukuran serentak. Pemberian makanan bergizi kepada balita. Pemberian tambah darah bagi remaja perempuan dan lainnya.
“Stunting di Kukar ini sekitar 14,3 persen pada 2024. Data tersebut diperbarui 2 tahun sekali,” pungkasnya. (kik)










