Prosesi Mengulur Naga Dalam Ritual Erau Adat Kutai

Naga Laki dan Bini yang dibawa ke Kutai Lama, Kecamatan Anggana. (M. As'ari/Lingkarkaltim)
Naga Laki dan Bini yang dibawa ke Kutai Lama, Kecamatan Anggana. (M. As'ari/Lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Prosesi Ngulur Naga dalam rangkaian upacara adat Erau menjadi penanda puncak pelaksanaan prosesi ritual adat Erau Kutai tahun 2026.

Kepala Disdikbud Kukar, Heriansyah menyebut bahwa proses mengulur Naga merupakan napak tilas dari munculnya sosok Puteri Karang Melenu.

Read More
banner 300x250

Prosesi Ngulur Naga ialah membawa replika Naga Laki dan Naga Bini (perempuan) dari Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang berada di Kecamatan Tenggarong menuju ke Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana.

“Dalam perjalanannya, singgah di Batang Aji di Samarinda Seberang untuk berkenyawa atau istirahat sebentar,” ucap dia, Minggu (27/9/2026).

Setelah istirahat sejenak, kapal akan melanjutkan membawa naga ke Desa Kutai Lama, yakni tempat berdirinya Negeri Jahitan Layar, Ibu Kota Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pertama kali.

Sesampainya di Kutai Lama, tubuh replika Naga Laki dan Naga Bini tersebut dilarungkan ke Sungai Mahakam.

“Sementara kepala dan ekor replika naga akan disemayamkan kembali di Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Mangku Patih, Dhanur Dwijatmiko menceritakan riwayat Naga di Kutai Lama.

Ia menjelaskan bahwa Petinggi Hulu Dusun bersama dengan sang istri bernama Babu Jelmu yang tinggal di Gunung Jahitan Layar, tepat di Kutai Lama, mendapatkan wahana alam gelap, yaitu tujuh hari, tujuh malam.

Dia mengatakan, saat Babu Jelmu mau memasak, kayu bakar untuk menyalakan api sudah habis.

“Lalu dialaklah (diambil) oleh Petinggi Hulu Dusun, yaitu kasau laki yang terbuat dari haur (bambu) kuning. Kemudian kayu itu dipotoknya (dipotongnya), lalu dibelahnya. Dan dilihat di dalam haur kuning tersebut ada hulat (ulat). Kemudian dialaknya hulat tadi. Grecek (bagus) beneh (banget) belangnya,” ujar dia.

Ia pun memanggil sang istri untuk melihat sesuatu yang dibawanya. Namun, Babu Jelmu memintanya untuk menjauhkan ulat tersebut karena merasa takut.

“Ndik ngapai dah pegi hak kesini, etam namai hulat bekedepa,” kata Pangeran Mangku Patih.

Sang istri pun mengambil ulat tersebut untuk dibersihkan.

“Kemudian dibuatnya, cepunya sampai tiga malam,” katanya.

Pangeran Mangku Patih mengatakan bahwa Petinggi Hulu Dusun bersama sang istri merasa takjub melihat ulat tersebut semakin tumbuh besar, serta tambah bagus belangnya.

“Kemudian ditamakan ke dalam bakul. Waktu demi waktu, hari demi hari, bakul odah hulat tadi penuh. Kemudian dipindahkan ke dalam kulit, kulit pun juga penuh,” tutur dia.

Babu Jelmu pun tambah takut, tetapi Petinggi Hulu Dusun pergi untuk mencari bahan membuatkan tempat tinggal ulat yang telah menjadi naga itu.

“Setelah bahan cukup, Petinggi Hulu Dusun pun molahkan (membuatkan) pondok odah (wadah) naga sampai pupus. Petinggi Hulu Dusun kemudian kejabakan (mengeluarkan) naga pada kulitnya. Telihat tedong (ular) bermahkota,” terang Pangeran Mangku Patih.

Baru berselang 7 hari pondok tersebut tidak lagi muat. Petinggi Hulu Dusun pun kembali membuatkan pondok dengan tujuh ruang ke hulu dan tujuh ruang ke hilir.

Sampai di suatu malam, Petinggi Hulu Dusun dan Babu Jelmu mendapatkan sebuah mimpi bahwa naganya ingin turun ke air.

“Mingat tidur, hambat bujur Petinggi Hulu Dusun bekesah dengan Babu Jelmu. Malam tadi aku bermimpi, naga etam endak turun ke aer. Tapi inya minta polahkan tangga,” ungkapnya.

“Sahut (menanggapi) Babu Jelmu, Aku mimpi jua, bermimpi yang sama dengan kita. Bermimpi etam, mimpi yang sama,” tambahnya.

Sang istri pun pergi untuk memasak nasi untuk mereka berdua sarapan. Sehabis makan, Petinggi Hulu Dusun pun membuatkan tangga untuk naga turun ke air.

“Pas dah meriannya (sore) pupus (selesai) tangga, pas malamnya dipadahinya (diberitahu), naga itu endak (ingin) turun, kawa hak dah (boleh sudah). Pas malam, pas hambat (pagi), naga mulai bergerak. Baru betempong di tangga, tangganya dah loros (runtuh). Balik pulang beramu bahan. Naganya ndik jadi (batal) turun,” tutur dia.

Ia menyebut bahwa Petinggi Hulu Dusun memikirkan cara agar naganya bisa turun ke air sesuai mimpi mereka.

“Habis cari akal tegak mana endak nurunkan naga ini, sampai inya ketiduran. Petinggi Hulu Dusun dalam tidurnya diberi mimpi. Tedong ndak turun lagi. Enya minta molahkan juhan tujuh tingkat, juhan lima tingkat, jelasak sebuting, kelengkeng kejutaiannya cukup dengan isinya, Jadi minta jagainya (menjaga) semalam suntuk (tidak tidur),” ungkap Pangeran Mangku Patih.

“Inya ndak turun minta ditimbunkan perapen, pisang, berteh, kembang melor, tunjung, beras kuning dan tambak nasi pulut. Penduduk sepasang, air kembang tangganya kayunya dari lempong suit. Ikatnya akar lubiding. Kemudian malamnya nimbun perapen dan behambur beras kuning dengan juhan diisi selengkapnya,” tambahnya.

Lalu, Petinggi Hulu Dusun pun membuatkan sesuai dengan mimpinya. Pagi harinya, naga ditepung tawari untuk turun ke air.

“Dan Babu Jelmu siap dengan bawaannya. Perapen hidup terus, beras kuning dihambur terus. Naga mulai turun sampai ke aer dengan selamat. Ndik loros lagi tangganya. Naga mulai tama (masuk) ke dalam aer, tinggal redasnya (buihnya). Diiringi Babu Jelmu dengan Petinggi Hulu Dusun,” bebernya.

Tidak lama pasangan tersebut mengikuti, timbulah dari dalam air sebuah tempat berisikan anak perempuan.

“Dalam balai (tempat) ada gong diisikan kanak bini (anak perempuan) Naga menjunjung Lembuswana. Balai tihang 41, beras karang, tambak karang melenu. Gong diberi nama Gong Raden Galoh. Kemudian kanak bininya diberi nama Putri Junjung Buyah,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *