KUKAR, LINGKARKALTIM: Seorang warga asal Tenggarong bernama Martono Arry Saputra meraup omset sekitar Rp. 500 ribu dari hasil memotret setiap harinya.
Ia mengatakan, kegiatan memotret awalnya hanya hobi biasa. Namun usai ditekuni, ternyata mendatangkan hasil lumayan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Dalam sehari saya 2 kali atau momen keluar rumah, untuk memotret warga yang tengah berolahraga,” katanya pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Kamis (2/7/2026).
“Sekali keluar bisa mendapatkan sekitar Rp. 300 ribu, jika 2 kali keluar bisa Rp. 500-600 ribu. Momen yang sering dimanfaatkan dalam memotret ialah dipagi dan sore hari,” imbuhnya.
Adapun lokasi atau angle yang menjadi andalan ialah di kawasan Car Free Day Taman Titik Nol, depan Kantor Bupati Kukar dan Stadion Aji Imbut.
“Setiap warga yang akan melintas dengan cepat difoto, jika yang bersangkutan penasaran dengan hasilnya dan suka, bisa mencari tahu fotografernya atau langsung menghampiri maupun konsumen bisa mengunjungi akun instagram Potrait Grind dan bisa langsung DM, untuk mengambil file foto yang diperlukan,” ujarnya.
Dalam pengambilan file foto, pihaknya tak mematok harga mahal, hanya Rp. 25 ribu bisa mendapat file foto dengan kualitas terbaik.
“1 foto dan merasa itu terbaik, bisa diminta filenya dengan harga Rp. 25 ribu,” sebutnya.
Selama terjun ke dunia fotografer, tantangan yang dihadapi ialah merawat alat-alat foto dengan baik. Karena alat foto ini memiliki nilai yang fantastis.
“Harga lensa foto saja bisa sampai Rp. 20 juta, belum kamera dan printilan lainnya,” ucapnya.
Ia mengaku, menjadi fotografer ini tak mudah memotret itu ada tekniknya mulai dari pemilihan angle, pencahayaan dan alat foto yang digunakan. Jadi dalam memotret, untuk menghasilkan produk berkualitas tidak boleh sembarangan.
Melalui dunia fotografer, dirinya sering bertemu dengan orang orang yang profesional dibidang yang sama. Sehingga hal ini dapat menjadi kesempatan, untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dibidang fotografi.
Menjadi fotografer juga harus memiliki sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal ini untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan memang ahli dibidangnya.
“Meskipun masih ada yang belum mendapatkan sertifikasi fotografer, tapi tetap kita rangkul untuk kemajuan profesi fotografer. Bukan berarti yang belum ini tak profesional, tapi mungkin ada kendala lain yang lebih penting,” ungkapnya.
Sementara itu warga Tenggarong Seberang Anissa Rahmawati menyebutkan, sering kali mengabadikan momen dengan melintas di hadapan fotografer saat berlolahraga. Karena jika difoto dengan fotografer profesional, pastinya hasil foto tersebut memuaskan.
“Saya sering membeli foto saat momen olahraga pada fotografer yang stand by. Sebelum melakukan transaski, saya memastikan kualitas dari hasi jepretan fotograper tersebut,” sebut Anissa. (Kik)










