KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mematangkan pemanfaatan film pendek bertema Erau sebagai media promosi budaya daerah.
Plt. Kepala Dispar Kukar, Arianto menyampaikan bahwa film pendek Erau yang telah selesai diproduksi pada prinsipnya sudah siap untuk ditayangkan kepada publik.
Film ini menjadi bagian dari strategi promosi untuk memperkenalkan kekayaan tradisi dan nilai budaya Kutai Kartanegara secara lebih luas.
“Kalau film ini kan sudah jadi, saya pikir tayang apa adanya saja,” ucap dia, Sabtu (31/1/2026).
Ia ingin ke depan produksi film bertema budaya daerah perlu dirancang lebih detail, khususnya dalam memperkuat identitas wilayah yang diangkat dalam cerita.
Penguatan unsur lokal penting agar pesan budaya dapat tersampaikan secara lebih utuh dan autentik kepada penonton.
Menurutnya, Kutai Kartanegara memiliki keragaman dialek bahasa Kutai yang berbeda di setiap kawasan, baik wilayah hulu, tengah, maupun pesisir.
Keragaman ini menjadi kekayaan yang dapat memperkuat karakter visual dan narasi jika dikemas secara konsisten dalam karya film.
“Kalau ceritanya mengambil latar wilayah tertentu, tentu akan lebih kuat kalau bahasa dan dialeknya juga disesuaikan. Itu membuat penonton merasa lebih dekat dan percaya dengan cerita yang disajikan,” sebut Arianto.
Selain bahasa Kutai, Arianto juga membuka ruang penggunaan bahasa lain yang berkembang di Kukar seperti Banjar, Bugis, dan Jawa, selama sesuai dengan konteks cerita dan latar sosial tokoh yang ditampilkan.
Pendekatan tersebut mencerminkan realitas sosial masyarakat Kukar yang majemuk.
Dispar Kukar mendorong agar film pendek Erau tidak hanya diputar secara terbatas, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai materi promosi non-komersial di berbagai kanal publikasi, termasuk platform digital dan media luar ruang seperti videotron.
“Video promosi seperti ini seharusnya bisa kita tayangkan di banyak media, termasuk platform digital. Jangan sampai hanya diputar terbatas,” tegasnya.
Sementara itu, sutradara film pendek Erau dari Donispicture, Doni Satriyo menjelaskan bahwa film tersebut telah diproduksi sesuai konsep awal yang disepakati bersama pihak terkait.
Jika dilakukan perubahan besar pada tahap sekarang, menurutnya, akan membutuhkan proses produksi ulang.
“Kalau harus mengulang dari awal tentu tidak memungkinkan. Paling mungkin hanya penambahan subtitle untuk memperjelas,” ujar dia.
Ia mengungkapkan proses produksi film pendek Erau memakan waktu sekitar dua bulan, mulai dari pengembangan ide, penulisan naskah, hingga proses pengambilan gambar dan penyuntingan.
Film pendek Erau dijadwalkan akan ditayangkan secara terbatas pada awal Februari 2026, direncanakan turut disaksikan oleh Bupai Kukar serta Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Untuk penayangan lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui kanal digital, pihak produksi masih menunggu arahan resmi dari Dispar Kukar.
“Kami hanya sebagai pembuat. Untuk kebijakan penayangan dan publikasinya, itu sepenuhnya kewenangan Dispar,” pungkas Doni. (ASR)










