Banjir Susulan Rendam Hampir Seluruh Desa di Tabang

Banjir yang merendam salah satu desa di Kecamatan Tabang. (Istimewa)
Banjir yang merendam salah satu desa di Kecamatan Tabang. (Istimewa)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Banjir kembali melanda Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sejak Minggu (12/1/2026).

Banjir kali ini merupakan banjir susulan dari peristiwa serupa yang terjadi pada Kamis pekan lalu, dengan dampak yang jauh lebih luas dan ketinggian air yang meningkat signifikan hingga mendekati dua meter di sejumlah wilayah pemukiman.

Read More
banner 300x250

Camat Tabang, Rakhmadani Hidayat menjelaskan bahwa banjir pada Kamis sebelumnya relatif belum parah dan hanya merendam beberapa titik di Desa SidoMulyo dengan ketinggian air beberapa sentimeter.

Namun, intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu menyebabkan debit air sungai kembali meningkat dan memicu banjir susulan yang lebih besar.

“Kalau rata-rata elevasinya hampir dua meter,” ucap dia, Selasa (13/1/2026).

Dari total 19 desa yang berada di Kecamatan Tabang, sebanyak 18 desa terdampak banjir.

“Dari 19 desa, hanya Desa Bila Talang yang tidak terdampak banjir karena posisinya lebih tinggi,” jelas Rakhmadani.

Banjir merendam rumah warga, fasilitas umum, serta sejumlah akses jalan utama yang menjadi urat nadi mobilitas dan distribusi barang antar desa.

Meski genangan air cukup tinggi dan meluas, kondisi warga disebut masih relatif aman. Berdasarkan laporan pemerintah desa terkait, sebagian besar masyarakat memilih bertahan di rumah masing-masing dan belum melakukan evakuasi ke tempat pengungsian.

“Ini banjir rutin yang hampir setiap tahun terjadi. Biasanya hanya berlangsung satu sampai dua hari, sehingga warga masih berdiam di rumah masing-masing,” katanya.

Meskipun demikian, pemerintah kecamatan tetap mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila ketinggian air terus meningkat atau banjir bertahan lebih lama dari perkiraan.

Pemerintah Kecamatan Tabang terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh kepala desa melalui grup komunikasi khusus untuk memantau perkembangan banjir secara berkala.

Aparat kecamatan juga diarahkan untuk melakukan mitigasi dan pemantauan langsung di lapangan.

Namun, keterbatasan sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri, terutama untuk menjangkau wilayah-wilayah yang hanya bisa diakses melalui jalur sungai.

“Kendala kami adalah sarana mobilisasi, khususnya transportasi sungai dan perairan. Kami tidak memiliki sarana tersebut, sehingga pemantauan hanya bisa dilakukan di titik-titik tertentu,” ungkap dia.

Sejumlah titik terpantau mengalami genangan cukup parah, terutama di Desa Sido Mulyo, jalur Poros PU, wilayah Desa Umaq Dian, serta sekitar Jembatan Tenjalin. Kondisi ini berdampak langsung terhadap terganggunya distribusi logistik.

Salah satu dampak signifikan adalah terhambatnya distribusi bahan bakar solar untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN.

“Distribusi solar untuk PLN hari ini terganggu karena akses darat tidak bisa dilalui,” jelas Rakhmadani.

Akibat terhambatnya pasokan bahan bakar, suplai listrik di wilayah Kecamatan Tabang ikut terdampak.

Listrik di sejumlah desa tidak menyala selama 24 jam penuh dan kerap mengalami pemadaman bergilir.

“Listrik kadang nyala, kadang mati. Tidak 24 jam,” ungkapnya.

Rakmadani merinci, 13 desa di Kecamatan Tabang bergantung pada pasokan listrik dari PLN UPTD, sementara enam desa di wilayah hilir mendapatkan suplai listrik dari PLTA dan PLTU.

Namun, banjir kiriman dari wilayah hulu kini mulai berdampak pada enam desa di zona hilir tersebut.

“Hari ini enam desa di wilayah hilir mulai terdampak banjir kiriman dari zona hulu,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *