KUKAR, LINGKARKALTIM: Perubahan iklim yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang tahun ini ternyata belum berdampak besar terhadap aktivitas pertanian di Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Namun demikian, para petani kini dihadapkan pada tantangan baru, yakni kelangkaan bibit padi gunungan yang mulai sulit didapat.
Sekretaris Kecamatan Muara Kaman, Nadi Baswan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca panas tidak terlalu memengaruhi siklus tanam di sebagian besar wilayah Muara Kaman. Menurutnya, lahan pertanian di daerah bawah masih dapat berproduksi normal karena ketersediaan air irigasi relatif stabil.
“Kalau musim kemarau sih nggak terlalu berpengaruh. Daerah kami masih bisa sampai tiga kali tanam. Cuma untuk padi gunungan agak susah sekarang, karena bibitnya juga mulai langka,” ujar Nadi Baswan, Jum’at (24/10/2025).
Ia menyebut, sebagian besar petani masih mampu beradaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrem berkat pengalaman dan pola tanam yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun. Namun, keterbatasan ketersediaan bibit unggul menjadi tantangan tersendiri yang perlu segera diatasi agar produktivitas tidak menurun.
Nadi menambahkan, pemerintah kecamatan terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar untuk memastikan distribusi benih dapat menjangkau petani di wilayah terpencil. Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat agar mulai mengadopsi teknologi pertanian sederhana yang lebih efisien terhadap perubahan iklim.
“Kami tetap memberikan semangat kepada para petani agar tidak berhenti berproduksi. Pemerintah kecamatan siap memfasilitasi jika ada kendala bibit atau kebutuhan air,” tambahnya.
Kondisi iklim yang tidak menentu juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Plt. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya mempertahankan produksi, tetapi juga menjaga kualitas tanah agar tetap subur meski terpapar musim kering yang berkepanjangan.
“Kesehatan tanah merupakan bagian penting dalam proses pertanian. Dengan tanah yang sehat, maka produksi pertanian bisa dijaga,” ungkap Taufik.
Taufik menjelaskan, tanah yang sehat memiliki kemampuan menyimpan air dan nutrisi lebih baik sehingga mampu menopang pertumbuhan tanaman di tengah kondisi cuaca ekstrem. Sebaliknya, tanah yang terdegradasi akan kehilangan daya dukungnya terhadap sektor pertanian dan berisiko memperburuk dampak perubahan iklim.
“Tanah bukan hanya sekadar media tumbuh tanaman, tapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi emisi karbon,” jelasnya.
Melalui kerja sama lintas sektor antara pemerintah kecamatan, penyuluh, dan Distanak Kukar, upaya menjaga ketahanan pangan di Muara Kaman diharapkan tetap berjalan stabil. Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat pengawasan terhadap kondisi tanah, bibit, dan produksi agar dampak perubahan iklim tidak mengganggu keberlanjutan pertanian di wilayah tersebut. (WAN/ADV)










