KUKAR, LINGKARKALTIM: Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar), Muhammad Taufik, menegaskan bahwa sektor pertanian di Kukar terus diarahkan untuk menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional.
Menurut Taufik, meski luas lahan pertanian menyusut karena berkurangnya jumlah petani, tingkat produktivitas padi justru meningkat.
“Kalau dari sisi luasan memang menurun, tetapi produktivitas naik. Sehingga produksi padi kita tidak terlalu anjlok. Tahun 2024 lalu, kontribusi Kukar masih sekitar 42 persen terhadap produksi beras Kaltim,” jelasnya, Jumat (3/10/2025).
Kukar sendiri menjadi salah satu daerah yang masuk dalam program penyangga pangan nasional. Ada lima kawasan utama dengan enam kecamatan yang menjadi fokus pengembangan pertanian, seperti Marangkayu, Tenggarong, Tenggarong Seberang, dan Muara Kaman. Program ini bahkan diperluas hingga sembilan kecamatan termasuk Kota Bangun dan Samboja.
Untuk memperkuat ketahanan pangan, Distanak Kukar bersama pemerintah pusat menjalankan tiga program unggulan, yakni Pengembangan Kawasan Ekonomi Sejahtera, Pemberdayaan Petani, Peternak, dan Nelayan Tangguh, serta Optimalisasi lahan pertanian untuk peningkatan produktivitas.
“Petani, peternak, dan nelayan tangguh ini ditargetkan bisa diperluas hingga 100 ribu penerima dalam lima tahun. Bahkan dukungan permodalan akan ditingkatkan, dari Rp50 juta menjadi Rp150 juta per kelompok,” ungkap Taufik.
Ia menambahkan, dukungan dari Kementerian Pertanian sangat besar, mulai dari bantuan bibit, pupuk, kapur, hingga biaya olah lahan. Bahkan ada program cetak sawah baru yang saat ini masih dikaji agar tepat sasaran dan benar-benar berkelanjutan.
“Kami belajar dari pengalaman sebelumnya, ada sawah yang dicetak tetapi akhirnya ditinggalkan petani. Karena itu kita harus selektif agar program cetak sawah benar-benar memberikan dampak,” terangnya.
Dari sisi produktivitas, Kukar mencatat rata-rata hasil panen 4,2 ton per hektare pada 2024. Padahal potensi bisa mencapai 7 ton per hektare dengan varietas unggul.
“Contohnya varietas Inpari 32 di demplot Bukit Biru bisa menghasilkan 6,6 ton per hektare. Artinya peluang peningkatan masih terbuka lebar,” tutur Taufik.
Ia menegaskan, arah pembangunan pertanian Kukar hingga 2030 adalah pertanian dalam arti luas. Kawasan ekonomi sejahtera di selatan, timur, dan utara Kukar akan menjadi basis utama pengembangan pertanian, termasuk subsektor peternakan dan perikanan.
“Kami optimistis dengan sinergi pemerintah daerah, provinsi, dan pusat, target swasembada pangan tahun 2026 bisa tercapai. Kukar akan tetap menjadi lumbung beras utama Kalimantan Timur,” pungkasnya. (WAN/ADV)










