KUKAR, LINGKARKALTIM: Kenaikan harga bahan pokok kembali dirasakan masyarakat di Kukar, khususnya Tenggarong.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga telur dan beras mengalami peningkatan yang cukup signifikan, meskipun aktivitas jual beli di pasar masih tetap berjalan.
Salah satu pedagang telur dan beras di Tenggarong, Ridwan mengungkapkan bahwa harga telur saat ini berada di kisaran Rp65.000 per piring.
Jika dihitung per butir, harga telur bervariasi mulai dari Rp2.000 hingga Rp3.000 tergantung ukuran dan kualitasnya.
“Dalam satu bulan terakhir ini memang ada kenaikan. Sebelumnya harga telur masih lebih rendah, sekarang naik bertahap mengikuti kondisi pasar,” ucap dia, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, untuk pembelian dalam jumlah besar, harga telur juga bervariasi. Saat ini, harga telur per ikat berada di kisaran Rp360.000 hingga Rp370.000.
Harga tersebut pun tergantung pasokan dari distributor dan kualitas barang yang diterima pedagang.
Dia menjelaskan, kenaikan harga tersebut bukan berasal dari pedagang, melainkan mengikuti harga dari pemasok.
“Kami ini hanya mengikuti harga dari distributor. Kalau dari atas naik, otomatis di bawah juga ikut menyesuaikan,” jelas Ridwan.
Selain telur, komoditas beras juga mengalami kenaikan harga. Untuk beras ukuran 25 kilogram, saat ini dijual di kisaran Rp395.000 hingga Rp398.000 per karung.
Jika dikonversi per kilogram, harga beras berada di angka Rp15.000 hingga Rp17.000.
Kenaikan harga ini, lanjut dia, turut dipengaruhi oleh kondisi distribusi dan pasokan barang di pasar.
“Plastik juga naik, jadi mau tidak mau biaya jualan ikut bertambah. Sementara daya beli masyarakat sekarang agak menurun,” ungkapnya.
Meski harga mulai naik, Ridwan bersyukur aktivitas jual beli masih tergolong ramai, walaupun tidak sekuat sebelumnya.
Ia mengatakan, masyarakat tetap membeli kebutuhan pokok, meski dalam jumlah yang lebih sedikit.
“Masih ada yang beli, tapi biasanya tidak sebanyak dulu. Mungkin karena harga naik, jadi pembelian juga disesuaikan,” kata dia.
Ia berharap harga bahan pokok secepatnya dapat kembali stabil agar tidak semakin menekan masyarakat maupun pedagang.
“Harapan kami tentu harga bisa kembali normal. Supaya pembeli tidak terbebani, dan kami sebagai pedagang juga bisa jualan lebih tenang,” tutup Ridwan. (ASR)










