KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus melihat peluang pengembangan pertanian melalui kearifan lokal masyarakat.
Salah satunya dilakukan di kawasan Danau Semayang, yakni masyarakat memanfaatkan kondisi alam danau untuk menanam padi dengan metode tebar benih langsung.
Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan, pemanfaatan kearifan lokal tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mencari alternatif ketika sektor pertanian menghadapi ancaman gagal panen.
Perhatian Pemkab Kukar terhadap Danau Semayang bermula setelah pemerintah menerima laporan sekaligus permohonan masyarakat untuk mendapatkan tambahan benih padi.
Saat pemerintah datang ke lokasi, masyarakat sebenarnya telah lebih dahulu melakukan penanaman secara swadaya.
“Di tahap awal kita salurkan 500 kg, setengah ton bibit, dan itu sudah ditebar oleh warga masyarakat yang ada di Semayang dengan cara mereka,” jelas dia, Sabtu (12/9/2026).
Setelah penebaran tahap pertama, masyarakat kembali mengajukan tambahan benih karena masih terdapat lahan yang dapat dimanfaatkan. Total permintaan benih kemudian mencapai sekitar 1.250 Kg.
Pemkab Kukar bersama jajaran Dinas Pertanian dan BRMP kemudian turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan sekaligus memahami metode penanaman yang dilakukan masyarakat.
Ia pun diajak masyarakat untuk ikut menanam padi menggunakan metode tersebut.
“Sampai di lapangan, kami diajak oleh warga masyarakat menanam padi dengan cara mereka. Sebagaimana yang sudah tumbuh di atas air, sebagaimana yang sudah kami lihat pada saat kami kunjungan ke lapangan,” ungkap Aulia.
Ia menyebut, metode tersebut memang terlihat tidak lazim bagi orang yang belum pernah melihatnya.
Namun, cara tersebut merupakan kearifan lokal masyarakat yang telah dilakukan berdasarkan kondisi alam Danau Semayang.
“Memang metodenya sangat unik. Seolah-olah kita seperti menabur padi di sungai. Akan tetapi, itulah metode yang digunakan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” katanya.
Aulia semakin tertarik dengan pertanian Danau Semayang adalah keberhasilan awal dari penebaran benih tersebut.
“Alhamdulillah memang yang padi 500 kg pertama itu sudah tumbuh. Sudah tumbuh di atas air di daerah Semayang,” beber dia.
Sementara itu, Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani menjelaskan bahwa penanaman padi di Danau Semayang sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sebelum pemerintah memberikan bantuan benih.
“Pada saat bupati datang di tanggal 1 September itu kondisinya di Danau Semayang itu hampir separuh Danau Semayang itu sudah tertanam,” kata dia.
Penanaman tersebut dilakukan masyarakat karena mereka melihat adanya momentum kondisi Danau Semayang yang menurut pengalaman mereka hanya terjadi sekitar satu kali dalam 10 tahun.
“Jadi pada saat bupati datang memang kondisinya itu sudah ada, bahkan sudah ada padi yang sudah umurnya sudah 20 hari setelah tanam,” ujar Rifani.
Dia menegaskan, kedatangan Bupati ke Danau Semayang bukan berarti seluruh benih bantuan langsung ditebar oleh Bupati.
“Bupati itu beliau secara simbolis ya. Jadi hadirnya Pak Bupati itu sebenarnya ingin menyatakan bahwa pemerintah hadir. Pemerintah hadir di tengah kondisi yang ada,” jelasnya.
Benih yang ditebar secara simbolis oleh Bupati tidak sampai satu kantong berukuran 25 kilogram.
“Benih-benih itu dibagi kepada masyarakat untuk ditebar di petaknya masing-masing. Jadi 1,25 ton itu sudah terbagi kalau Bupati hanya secara simbolis kemarin,” terang dia.
Ia menjelaskan, metode yang digunakan masyarakat dikenal dengan istilah tabela atau tanam benih langsung.
Namun, untuk kondisi perairan Danau Semayang, terdapat metode khusus yang dikenal sebagai tabela dar, yakni tanam benih langsung dalam air.
Ia mengatakan, informasi mengenai metode tersebut juga diperoleh dari rekan-rekan BRMP.
Metode serupa disebut pernah dilakukan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
“Kalau kita lihat yang mengambang itu adalah benih-benih yang kosong sebenarnya. Jadi kalau benih-benih yang bernas dia akan tuh dia akan tenggelam,” terang Rifani.
Dia menyebut praktik penanaman padi di Danau Semayang telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat.
Berdasarkan pengalaman masyarakat, pola penanaman tersebut tidak dapat dilakukan setiap tahun karena sangat bergantung pada kondisi alam dan ketinggian air danau.
“96-97 ya itu pernah terjadi. Panen raya terakhir itu tahun 2015 dan itu mereka yang tunjukkan kepada kita, ‘Pak ini pernah panen raya, Pak.’ Mereka tunjukkan video berhasil sebelumnya,” ungkapnya.
Dokumentasi panen sebelumnya juga masih dimiliki masyarakat dan menjadi bukti bahwa metode tersebut pernah menghasilkan panen.
Karena kondisi tersebut hanya muncul pada momentum tertentu, masyarakat berupaya memanfaatkan kesempatan ketika kondisi Danau Semayang memungkinkan untuk ditanami.
Apalagi, salah satu kelebihan metode tersebut adalah biaya produksinya yang relatif rendah.
Masyarakat tidak perlu melakukan pengolahan lahan seperti pada sawah konvensional.
Selain itu, masyarakat juga tidak membutuhkan pupuk dalam proses awal penanaman karena mereka memanfaatkan kondisi perairan dan unsur hara yang tersedia secara alami.
“Nah itu kan mengurangi biaya produksi,” sebut dia.
Menurutnya, produktivitas metode tersebut memang nantinya perlu dilihat setelah memasuki masa panen.
Namun, rendahnya biaya produksi menjadi salah satu keunggulan yang tetap patut diperhitungkan.
“Jadi meskipun misalnya hasil panennya nanti tidak seperti sawah yang produktif yang sudah ada, tetapi mereka sudah bisa memotong biaya produksi,” pungkas Rifani. (ASR)










