KUKAR, LINGKARKALTIM: Sungai Mahakam di kawasan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan daya tariknya bagi para penghobi mancing. Seorang pemancing bahkan berhasil mendapatkan ikan yang disebut sebagai Black Bass di perairan Sungai Mahakam.
Pengalaman tersebut dibagikan melalui video yang memperlihatkan aktivitas memancing di Sungai Mahakam. Temuan itu menjadi perhatian karena Black Bass selama ini kerap diasosiasikan dengan perairan muara maupun laut.
“Gak perlu jauh-jauh mancing di muara sungai ataupun laut, di Sungai Mahakam Tenggarong sudah ada Black Bass,” ujar salah satu pemancing Emon di media sosial facebook Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Sungai Mahakam masih menyimpan beragam potensi ikan yang menarik untuk dijajal para pemancing.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan perubahan kondisi perairan saat musim kemarau memang dapat memengaruhi pola keberadaan ikan.
Saat debit air menyusut, sejumlah ikan dari kawasan rawa dapat berpindah dan berkumpul di sungai. Kondisi serupa, kata dia, juga kerap terlihat di sepanjang aliran Sungai Mahakam di wilayah Tenggarong.
“Kalau kemarau, ikan ngumpul. Ikan-ikan banyak ke sungai karena di rawa-rawa sudah pada kering,” jelas Muslik.
Ia menyebut beberapa jenis ikan air tawar, seperti puyau dan repang, juga kerap ditemukan pemancing ketika kondisi air sungai mengalami naik-turun.
Namun, Muslik menegaskan kondisi kemarau tidak serta-merta mengancam keberlangsungan habitat ikan di Sungai Mahakam. Pasalnya, Sungai Mahakam tidak pernah benar-benar mengalami kekeringan.
Menurutnya, dampak kemarau lebih terasa pada ekosistem ikan rawa karena menyusutnya genangan air. Meski demikian, kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus alami yang biasa terjadi.
“Kalau ikan-ikan rawa dan lain sebagainya berpengaruh, otomatis karena menyusutnya air. Tapi ini sebenarnya gejala yang alami terjadi,” ujarnya.
Muslik menjelaskan, sejumlah jenis ikan memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi perairan yang mengering. Beberapa di antaranya dapat melakukan semacam dormansi atau berdiam diri hingga kondisi lingkungan kembali mendukung.
Ketika musim hujan tiba dan genangan kembali terisi, ikan-ikan tersebut dapat kembali aktif. Selain itu, masih terdapat cekungan atau genangan air yang menjadi tempat ikan bertahan selama musim kemarau.
Karena itu, DKP Kukar terus mendorong perlindungan kawasan tertentu melalui keberadaan reservat. Langkah tersebut penting untuk menjaga agar sisa-sisa genangan air yang menjadi habitat ikan tidak dieksploitasi secara berlebihan.
“Makanya kami menjaga di reservat dan lain sebagainya. Jangan sampai sisa air yang ada itu dijarah oleh masyarakat,” tegasnya.
Fenomena munculnya berbagai jenis ikan di Sungai Mahakam saat musim kemarau sekaligus menunjukkan bagaimana perubahan kondisi perairan dapat memengaruhi pergerakan dan habitat ikan di sepanjang aliran sungai.(ahk)










