KUKAR, LINGKARKALTIM: Belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, SDN 020 Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), memiliki inisiatif tersendiri untuk membiasakan siswa mengonsumsi makanan bergizi melalui program membawa bekal dari rumah.
Program yang dilaksanakan setiap Rabu tersebut melibatkan peran orang tua dalam menyiapkan bekal sehat dan bergizi bagi anak-anak mereka. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi orang tua dan siswa untuk menunjukkan kreativitas dalam menyajikan makanan.
Kepala SDN 020 Tenggarong, Siti Zumroati, mengatakan program tersebut digagas untuk mendorong keterlibatan orang tua dalam memperhatikan asupan makanan anak, khususnya selama berada di sekolah.
“Kami mengadakan program makanan bergizi ini karena ingin orang tua turut berkontribusi dalam menyiapkan bekal anak. Selain itu, kami juga ingin melihat kreativitas orang tua murid,” ungkapnya kepada Lingkarkaltim.com, Sabtu (7/11/2026).
Siti menjelaskan, program tersebut dilaksanakan empat kali dalam sebulan atau setiap hari Rabu. Bekal yang dibawa siswa kemudian disantap bersama di ruang kelas masing-masing.
Menurutnya, pihak sekolah masih menemukan sejumlah siswa yang membawa bekal dengan kandungan gizi yang belum beragam. Salah satunya berupa mi instan dan telur.
“Kami sering mendapati bekal siswa yang berisi mi instan dan telur. Memang tidak harus sempurna, tetapi setidaknya ada kandungan gizi di dalamnya,” jelasnya.
Untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi seimbang, pihak sekolah terkadang bekerja sama dengan puskesmas setempat melalui kegiatan penyuluhan kepada siswa.
“Jika kami bekerja sama dengan puskesmas setempat, biasanya seluruh siswa akan menyantap bekal secara bersamaan di dalam satu ruangan,” tambahnya.

Siti mengungkapkan, program membawa bekal bergizi tersebut juga menjadi salah satu upaya sekolah sembari menunggu realisasi program MBG. Pasalnya, hingga saat ini SDN 020 Tenggarong belum menerima layanan makan bergizi gratis tersebut.
Ia menyebutkan, sebanyak 334 siswa di sekolah tersebut bahkan kerap mempertanyakan kapan program MBG akan hadir di sekolah mereka.
“Kami sudah sering dilakukan pendataan, tetapi sampai sekarang belum ada program MBG yang benar-benar hadir di sekolah kami,” keluhnya.
Meski demikian, Siti berharap program bekal bergizi yang telah berjalan dapat menjadi alternatif bagi siswa sekaligus menjaga semangat mereka sembari menunggu kehadiran MBG.
Pihak sekolah pun berkomitmen mempertahankan program tersebut, terlepas dari ada atau tidaknya pelaksanaan MBG di sekolah.
“Kami akan mempertahankan program yang sudah ada. Ada atau tidak adanya MBG, kami terima, karena bagaimanapun itu merupakan program pemerintah,” tutupnya.(ahk/*far)










