Tanamkan Kepedulian Lingkungan, SDN 026 Loa Kulu Terapkan Program ALISA BAGUS

Teks Foto: Kepala SDN 026 Loa Kulu, Sri Endang Warndani. (Far/Lingkarkaltim.com)
Teks Foto: Kepala SDN 026 Loa Kulu, Sri Endang Warndani. (Far/Lingkarkaltim.com)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: SDN 026 Loa Kulu, yang berlokasi di Jalan Dr. F. L. Tobing, Desa Rempanga, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menerapkan program peduli lingkungan melalui gerakan ALISA BAGUS (Ambil Lima Sampah Buang Sekaligus).

Program tersebut menjadi salah satu upaya sekolah dalam menanamkan kedisiplinan dan kepedulian peserta didik terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dalam mengurangi sampah plastik di area sekolah.

Read More
banner 300x250

Kepala SDN 026 Loa Kulu, Sri Endang Wardani, mengatakan program ALISA BAGUS diterapkan untuk membiasakan siswa menjaga kebersihan lingkungan melalui tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.

“Kami menerapkan program tersebut dengan tujuan melatih kedisiplinan anak-anak dalam menjaga kebersihan lingkungan,” ungkapnya kepada Lingkarkaltim.com, Jumat (6/11/2026).

Ia menjelaskan, meskipun sekolahnya belum mengikuti penilaian Adiwiyata, pihak sekolah tetap berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang bersih, nyaman, dan asri.

“Walaupun kami belum mengikuti program Adiwiyata, kami tetap berupaya membentuk peserta didik yang disiplin dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Menurut Sri, pelaksanaan program ALISA BAGUS berjalan dengan baik berkat kepatuhan siswa dalam menjalankan kebiasaan menjaga kebersihan di lingkungan sekolah.

Ia mengaku bangga dapat memimpin sekaligus berkontribusi dalam membentuk karakter disiplin peserta didik melalui program tersebut.

Selain membiasakan siswa menjaga kebersihan, pihak sekolah juga memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya, yakni organik dan anorganik.

“Kami kerap mengajarkan anak-anak untuk memilah sampah, mulai dari sampah organik hingga anorganik,” jelasnya.

Sri menyebutkan, sampah plastik yang dikumpulkan di sekolah selanjutnya diserahkan kepada Bank Sampah Desa Rempanga untuk dikelola lebih lanjut. Sementara itu, sampah organik yang dihasilkan relatif sedikit karena sebagian besar hanya berupa daun dan rumput dari lingkungan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, pihak sekolah masih menghadapi tantangan dalam membiasakan siswa kelas I dan II untuk menjalankan program tersebut. Menurut Sri, siswa pada jenjang tersebut masih membutuhkan pendampingan karena sedang beradaptasi dengan lingkungan dan aturan sekolah.

“Untuk siswa kelas I dan II, kami masih memaklumi karena mereka masih dalam tahap beradaptasi dengan kewajiban dan kebiasaan di sekolah,” terangnya.

Ke depan, Sri berharap seluruh peserta didik semakin disiplin dan konsisten dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah dengan mematuhi aturan yang telah diterapkan.

“Kami berharap anak-anak selalu mematuhi peraturan yang sudah diberikan sekolah. Jika mereka disiplin, lingkungan yang bersih dan nyaman ini juga akan memberikan kenyamanan bagi mereka dalam belajar,” pungkasnya.(ahk/*far)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *