KUKAR, LINGKARKALTIM: Kemarau telah memberikan dampak terhadap areal persawahan di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani mengatakan dampak kemarau telah memberikan tekanan bagi para petani, seperti contoh di Desa Persiapan Loa Duri Seberang.
“Jadi itu ada laporan ke kami terkait dampak kemarau terhadap sawah mereka. Jadi kami cek, kami tangani kemarin, tapi tidak semuanya puso. Jadi kalau kemarin hasil kami datang ke sana sebenarnya sekitar 8-9 hektare saja yang puso dari 87 hektare,” kata dia, Jumat (18/9/2026).
Selain Loa Duri Seberang, ada di Bukit Biru, Marangkayu dan Tenggarong Seberang.
Namun, tingkat kerusakan tanaman tidak sama karena sangat bergantung pada umur padi dan ketersediaan air di masing-masing lokasi.
Ia menerangkan, di Bukit Biru terdapat sekitar 100 hektare areal persawahan yang terdampak.
“Hampir semua ya, Bukit Biru 100 hektare, tapi rata-rata ada yang panen,” terang Rifani.
Dia menjelaskan, tanaman padi yang telah berusia lebih dari 80 hari setelah tanam relatif lebih aman menghadapi kondisi kekurangan air.
“Nah ini yang tidak aman ini yang 80 hari bawah, jadi ada kelas-kelasnya,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat penanganan di lapangan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing hamparan.
Pemerintah tidak hanya melihat luas lahan yang terdampak, tetapi juga kondisi tanaman serta ada atau tidaknya sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.
Rifani mengatakan bahwa koordinasi dengan sejumlah wilayah yang terdampak telah dilakukan.
Pihaknya telah melakukan survei untuk memastikan keberadaan sumber air yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengairan.
“Jadi kalau memang ada sumber airnya, oke kita support pompa,” ujar dia.
Misalnya, penanganan yang telah dilakukan di Kertabuana dengan luas areal sekitar 209 hektare.
“Itu kita kerja sama dengan BPBD, kita support, ada tiga unit pompa yang 2,5 in,” kata Rifani.
Pompa tersebut dimanfaatkan dengan mengambil air dari void eks tambang.
“Alhamdulillah memanfaatkan void eks tambang, kita bisa selamat,” sebutnya.
Sementara itu, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa mereka telah membentuk tim terpadu untuk mengidentifikasi sumber-sumber air yang berpotensi dimanfaatkan untuk mengairi persawahan.
“Kemarin kami dengan tim terpadu juga, kita ada bentuk tim terpadu dari Dinas Pertanian sendiri, dari bagian sumber daya air, dari BPBD, dari Damkar, itu mengidentifikasi sumber-sumber air,” ungkap dia.
Pihaknya telah mengidentifikasi beberapa sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk disalurkan ke sawah-sawah.
Pemkab Kukar pun kemudian mengajukan bantuan pompa kepada Kementerian Pertanian.
“Kami juga berkomunikasi waktu itu dengan Pak Budisatrio Djiwandono (Anggota DPR RI Dapil Kaltim). Beliau cepat merespons dan info awal ada 25 pompa yang akan disalurkan,” tutup Aulia. (ASR)










