PALEMBANG, LINGKARKALTIM: Kepedulian generasi muda terhadap hutan tidak cukup berhenti pada kesadaran. Anak muda perlu mendapatkan ruang untuk belajar, melihat persoalan secara langsung, mengembangkan inovasi, serta mengubah kepedulian menjadi aksi nyata. Pesan tersebut mengemuka dalam sesi “Youth Talk” Forest Youthverse (FYV) Resilience Summit Sumatera Selatan 2026 di Palembang
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian FYV Resilience Sumatera Selatan yang mengangkat tema “Peatland & Fire Resilience: Membangun Ketangguhan Ekosistem Gambut dan Generasi Muda untuk Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan.”
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Luckmi Purwandari, menegaskan bahwa Forest Youthverse Resilience dirancang bukan sekadar untuk meningkatkan pengetahuan generasi muda mengenai persoalan lingkungan, tetapi untuk membangun karakter, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian mengambil peran.
“Kami tidak ingin Genries hanya menjadi generasi yang tahu bahwa kebakaran hutan dan lahan adalah persoalan. Kami ingin mereka menjadi generasi yang bertanya: apa yang bisa saya lakukan? Karena peduli saja tidak cukup. Kepedulian harus tumbuh menjadi gagasan, gagasan harus menjadi inovasi, dan inovasi harus berujung pada aksi nyata,” ujar Luckmi.
Plt. Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah II Palembang, Eko Widodo, menyampaikan bahwa Forest Youthverse diharapkan dapat menjadi ruang bagi Genries untuk membangun kesadaran sekaligus memahami secara langsung upaya menjaga hutan dan lingkungan.
“Kita mulai dari kesadaran, salah satunya dengan mengikuti Forest Youthverse. Genries juga telah melihat langsung Training Center Daops Manggala Agni dan belajar bagaimana upaya pencegahan dan penanganan kebakaran dilakukan. Harapannya, setelah kegiatan ini kesadaran tersebut berkembang menjadi aksi nyata,” ujar Eko.
Sementara itu, pada Sesi Youth Talk yang dimoderatori oleh Alifah Chitunnisa dari Saka Wanabakti Sumatera Selatan menghadirkan empat generasi muda, yaitu Aurellia Chaila Amanta, Sella Islamiah, Indah Suci M., dan M. Zaid Pramandhana.
Aurellia Chaila Amanta berbagi pengalaman mengembangkan kewirausahaan melalui budidaya cabai. Berawal dari 100 benih dalam sebuah kompetisi yang diselenggarakan Bank Indonesia, ia belajar mengembangkan tanaman hingga dapat dipanen dan menghasilkan nilai ekonomi. Pengalamannya sebagai Green Ambassador dan relawan semakin meyakinkannya bahwa kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan kewirausahaan.
“Anak muda punya banyak cara untuk berkontribusi. Kita bisa memulai dari apa yang ada di sekitar kita, mengembangkan kreativitas dan kewirausahaan, sekaligus membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Aurellia.
Sementara itu, Sella Islamiah membagikan pembelajaran dari Bamboe Wanadesa, ketika masyarakat mampu melihat potensi hutan bambu dan mengembangkannya menjadi ekowisata. Menurutnya, anak muda sebenarnya memiliki banyak gagasan, namun sering kali masih membutuhkan ruang, jejaring, pendampingan, dan dukungan untuk mewujudkannya.
“Banyak anak muda memiliki ide yang bagus. Yang kita butuhkan adalah ruang untuk bertumbuh, berkolaborasi, dan mengembangkan ide tersebut menjadi sesuatu yang memberikan manfaat,” kata Sella.
Pengalaman berbeda disampaikan Indah Suci M. yang pernah mengikuti praktik lapangan di kawasan Gunung Dempo, Pagar Alam. Menyusuri hutan di tengah kondisi cuaca yang berubah, melakukan analisis vegetasi, mencari spesimen herbarium, serta mengenal keanekaragaman hayati secara langsung membuatnya semakin memahami bahwa kepedulian terhadap alam tumbuh dari proses mengenal.
“Ketika kita mengenal alam secara langsung, akan tumbuh kepedulian. Dari kepedulian kemudian muncul rasa memiliki, dan dari rasa memiliki tumbuh keinginan untuk menjaga,” ujar Indah.
Sedangkan M. Zaid Pramandhana, anggota Saka Wanabakti, berbagi pengalamannya mengikuti pelatihan bersama Manggala Agni. Ia mendapatkan kesempatan mengenal peralatan, teknik pemadaman, serta memahami bahwa menghadapi kebakaran hutan dan lahan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan.
“Peduli saja tidak cukup. Kita harus tahu apa yang bisa dilakukan dan berani mengambil aksi nyata. Saya belajar bahwa menghadapi kebakaran bukan hanya tentang memadamkan api, tetapi juga bagaimana kita melakukan pencegahan dan membangun kesiapsiagaan,” kata Zaid.
Melalui Youth Talk ini, FYV Resilience Sumatera Selatan ingin menunjukkan bahwa membangun ketangguhan terhadap kebakaran hutan dan lahan bukan hanya dilakukan ketika api sudah menyala. Ketangguhan juga dibangun melalui edukasi, pencegahan, kesiapsiagaan, inovasi, pemberdayaan masyarakat, serta keterlibatan generasi muda.
Empat anak muda dengan pengalaman berbeda tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak jalan untuk menjadi Generasi Pelestari Hutan. Ada yang bergerak melalui kewirausahaan, ekowisata, pendidikan dan pembelajaran langsung dari alam, maupun peningkatan kapasitas dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Pesannya sama: generasi muda tidak cukup hanya peduli. Generasi muda harus diberikan ruang untuk belajar, berinovasi, berkolaborasi, dan mengubah kepedulian menjadi aksi nyata.
(Sumber: kehutanan.go.id)










