Arus Mudik Jalur Sungai Alami Penurunan

Suasana puluhan penumpang saat mau naik ke kapal Barokah 08. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Suasana puluhan penumpang saat mau naik ke kapal Barokah 08. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Suasana arus mudik di jalur Sungai Mahakam tahun ini terasa berbeda.

Di Dermaga Stadion Aji Imbut, puluhan penumpang akan berangkat menuju wilayah hulu.

Read More
banner 300x250

Namun, kepadatan yang biasanya terjadi pada musim Lebaran tampak berkurang.

Salah satu pemudik, Hendra bersama sang istri memilih tetap menggunakan transportasi air untuk pulang kampung ke Melak, Kutai Barat meski kapal tidak seramai tahun sebelumnya.

“Kami mau mudik ke Melak karena momen Lebaran, ingin pulang dan bertemu orang tua,” ucap dia sebelum naik ke kapal, Kamis (19/3/2026).

Baginya, kapal masih menjadi pilihan utama karena faktor kenyamanan. Perjalanan panjang melalui jalur sungai lebih santai dibandingkan jalur darat yang menuntut kondisi fisik lebih prima.

“Kalau pakai kapal itu lebih santai, bisa duduk, tidur, dan istirahat. Sebenarnya ada opsi pakai mobil, tapi tidak tahan di jalannya,” kata Hendra.

Dia mengaku sudah cukup sering menggunakan kapal untuk perjalanan pulang-pergi ke kampung halaman.

Orang tuanya tinggal di kawasan Sumber Sari, Melak, yang menjadi tujuan utama mudiknya setiap tahun.

“Kalau berangkat sekarang, biasanya sampai sekitar jam tiga dini hari. Kalau balik ke Tenggarong, biasanya lebih cepat, pagi sudah sampai,” jelasnya.

Terkait biaya, Hendra menyebut harga tiket kapal relatif terjangkau. Ia membayar Rp200 ribu per orang, meski ada informasi harga lain yang sedikit lebih murah.

“Ada juga yang bilang Rp180 ribu,” ungkap dia.

Menariknya, meski mudik Lebaran identik dengan lonjakan penumpang, ia masih bisa mendapatkan tiket meski membeli dalam waktu yang relatif dekat dengan jadwal keberangkatan.

“Istri saya beli duluan hari Senin. Saya baru menyusul beli kemarin, dan masih dapat tiket,” tutur Hendra.

Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tiket kapal kerap habis jauh hari sebelum Lebaran dan penumpang memadati dermaga.

“Padahal biasanya penuh,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayaran, Dishub Kukar, Rakhmadani Hidayat membenarkan bahwa tren arus mudik sungai tahun ini mengalami penurunan.

Berdasarkan analisa dari para koordinator dermaga, terjadi penurunan minat masyarakat menggunakan moda transportasi air dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah adanya insiden kecelakaan transportasi air beberapa waktu lalu di perairan Muara Kaman.

“Sehingga masyarakat menjadi lebih berhati-hati atau khawatir,” ujar dia.

Dampaknya, sebagian masyarakat memilih beralih ke moda transportasi darat untuk perjalanan mudik, terutama bagi yang memiliki alternatif jalur lain yang dinilai lebih aman.

Dari sisi angka, Dishub Kukar mencatat penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan data analisa lapangan, penurunan arus penumpang transportasi air mencapai sekitar 25 persen.

Pada periode mudik tahun-tahun sebelumnya, jumlah penumpang transportasi air di titik tersebut bisa mencapai sekitar 100 orang per hari, khususnya saat puncak arus mudik maupun arus balik.

“Setelah kejadian itu sempat turun di angka 40 sampai 50 penumpang,” ungkap Dani.

Meski demikian, dia menyebut bahwa saat momentum libur lebaran tahun ini, jumlah penumpang seyogyanya mulai kembali meningkat, mendekati angka normal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Hal tersebut menunjukkan mulai pulihnya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi air, meskipun belum sepenuhnya stabil.

“Dengan adanya momen libur ini, jumlahnya mulai kembali mendekati angka biasanya. Tapi ini tetap jadi perhatian kami untuk terus meningkatkan pengawasan,” tutupnya. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *