KUKAR, LINGKARKALTIM: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menurunkan personel ke wilayah terdampak banjir di Kecamatan Tabang dan Kecamatan Kembang Janggut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Abdal menjelaskan bahwa mereka telah mengirimkan personel ke lokasi terdampak pada Senin 12 Januari 2026.
“BPBD sudah mengirimkan personel kurang lebih delapan orang ke lokasi,” kata dia, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, pemantauan kondisi banjir dilakukan secara intensif melalui koordinasi lintas sektor.
BPBD Kukar tergabung dalam grup komunikasi bersama Camat, Koramil, dan pihak terkait lainnya untuk memantau perkembangan situasi di lapangan secara real time.
“Dari laporan tadi malam sampai pagi, kawasan Tabang itu sudah berangsur-angsur turun,” jelas Abdal.
Dia mengatakan, pola banjir yang terjadi di wilayah tersebut merupakan kejadian yang berulang.
Setelah debit air di Kecamatan Tabang mulai surut, air biasanya bergerak menuju wilayah hilir.
“Seperti biasa, kalau Tabang sudah turun, airnya akan bergerak lagi ke Kembang Janggut,” katanya.
Abdal menjelaskan, para personel masih memantau situasi dan perkembangan kondisi banjir.
Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, BPBD Kukar biasanya menempatkan personel selama beberapa hari.
“Kalau yang sering kami lakukan, biasanya lima sampai tujuh hari personel kami tarik. Itu pun tergantung kondisi, kalau masih ada pergantian atau eskalasi, tentu akan disesuaikan,” ungkap dia.
Ia mengungkapkan, saat ini BPBD Kukar belum mendirikan posko resmi di lokasi terdampak. Hal tersebut dikarenakan kondisi banjir yang mulai menunjukkan tren penurunan.
“Sementara ini posko secara khusus belum ada. Memang ada perintah untuk menyiapkan posko, tapi karena situasinya mulai menurun, saya kira belum sampai ke tahap itu,” tutur Abdal.
Meski belum mendirikan posko resmi, BPBD Kukar tetap melakukan pengendalian dan pemantauan melalui aparat kecamatan serta menempatkan personel di lapangan.
“Personel tetap kami siagakan di sana, hanya saja posko resmi dari BPBD belum dibentuk,” bebernya.
Untuk mendukung kegiatan di lapangan, pihaknya pun menurunkan sejumlah sarana dan prasarana. Di antaranya satu unit perahu evakuasi bermesin speed 40 PK, pelampung keselamatan, logistik BBM, serta satu unit mobil towing.
“Kami turunkan satu unit perahu evakuasi bermesin speed 40 PK, life jacket, persediaan logistik seperti BBM, dan satu unit mobil towing,” ungkap dia.
Mobil towing tersebut dibutuhkan sebagai langkah antisipasi apabila terdapat kendaraan masyarakat yang mogok atau terjebak genangan banjir di jalur darat.
“Karena jalan darat terendam banjir, biasanya banyak kendaraan yang macet. Mudah-mudahan towing ini bisa bermanfaat kalau ada masyarakat yang perlu dibantu,” pungkas Abdal. (ASR)










