Disdikbud Kukar Dorong Tradisi Beseprah Jadi Budaya di Semua Tingkatan

Tradisi Beseprah Erau 2025
Tradisi Beseprah Erau 2025
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Tradisi Beseprah yang menjadi salah satu agenda utama Erau Adat Kutai 2025 kembali digelar meriah pada Kamis (25/9/2025). Ratusan warga dari berbagai kalangan berkumpul di depan Museum Mulawarman Tenggarong, duduk lesehan bersama menikmati hidangan yang disajikan secara berjejer panjang. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan begitu terasa, sejalan dengan nilai kebersamaan yang terkandung dalam tradisi ini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara, Thauhid Afrilian Noor, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya. Ia menilai tradisi Beseprah merupakan warisan leluhur yang tidak hanya bernilai adat, tetapi juga memiliki makna sosial yang dalam, yakni mempererat silaturahmi dan persatuan masyarakat.

Read More
banner 300x250

“Alhamdulillah, hari ini pelaksanaan berjalan sukses. Harapan kita, prosesi beseprah seperti ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah kabupaten saat Erau, tetapi bisa juga digelar di tingkat RT, kelurahan, bahkan di sekolah-sekolah. Karena tujuannya adalah membangun keakraban dan mempererat persaudaraan,” ujar Thauhid.

Menurutnya, beseprah perlu dijadikan kebiasaan bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Ia menekankan bahwa siapa pun dapat melaksanakan beseprah, tanpa terbatas pada jenjang pemerintahan tertentu. Tradisi ini, kata dia, bisa menjadi media untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Selain mengulas makna beseprah, Thauhid juga memberikan imbauan khusus terkait prosesi Belimbur, yakni mandi bersama yang selalu menjadi puncak kemeriahan Erau. Ia menekankan agar masyarakat menjaga ketertiban dan mengikuti aturan yang berlaku demi keamanan bersama.

“Belimbur itu harus dilakukan dengan tertib. Jangan menggunakan air kotor, gunakan air bersih dengan gayung, dan jangan sampai ada tindakan yang merugikan orang lain. Jangan sampai ada yang melempar air sembarangan atau melakukan pelecehan, itu jelas tidak dibenarkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Thauhid menjelaskan batasan area pelaksanaan belimbur. Menurutnya, prosesi tersebut hanya diperbolehkan di jalur tertentu, yakni mulai dari kawasan Museum Mulawarman hingga depan Kantor Bupati Kukar. Di luar area tersebut, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan belimbur.

“Batasan ini perlu dipahami bersama, supaya pelaksanaan tetap kondusif. Prosesi biasanya dimulai setelah air tiba, sekitar pukul sepuluhan, jadi masyarakat diharapkan tetap sabar menunggu dan mengikuti aturan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa belimbur sejatinya adalah prosesi sakral yang dilakukan untuk membersihkan diri, bukan ajang untuk membuat kegaduhan. Karena itu, masyarakat perlu menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tradisi ini tetap menjadi kebanggaan daerah.

Dengan adanya partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan tradisi, Disdikbud Kukar berharap beseprah dan belimbur tidak hanya sekadar agenda tahunan dalam Erau. Lebih dari itu, keduanya diharapkan bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai tingkatan masyarakat, sebagai simbol persatuan, persaudaraan, dan kearifan lokal Kutai Kartanegara. (WAN/ADV)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *