KUKAR, LINGKARKALTIM: Hasil panen demplot padi kerjasama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatatkan produktivitas yang menggembirakan. Panen di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, mencapai 6,2 ton per hektare, jauh di atas rata-rata produktivitas padi di Kukar yang hanya 4,2 ton per hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik, yang turut menghadiri syukuran panen tersebut menyampaikan apresiasi atas keberhasilan program ini.
“Alhamdulillah, hasil panen dari demplot ini cukup luar biasa. Produktivitasnya jauh melampaui rata-rata daerah,” ujarnya.
Menurut Taufik, capaian ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antar lembaga dapat menghasilkan inovasi yang efektif dalam meningkatkan produksi pangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mendukung stabilitas pangan dan ekonomi daerah.
Demplot padi yang digarap bersama BI Kaltim dan Poltek Samarinda ini juga mendapat perhatian besar dari pemerintah provinsi. Panen perdana bahkan dihadiri langsung Wakil Gubernur Kaltim serta Bupati Kukar, yang menunjukkan dukungan penuh terhadap pengembangan pertanian di daerah.
Selain di Bukit Biru, BI Kaltim melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga mengembangkan demplot serupa di beberapa wilayah lain. Program ini tidak hanya fokus pada padi, tetapi juga hortikultura, termasuk sayuran di Kota Bangun, Loa Tebu Tenggarong, dan Anggana.
Taufik menyebut, keberhasilan demplot tersebut memberikan pembelajaran penting dalam praktik budidaya padi yang lebih efektif. Dengan produktivitas tinggi, diharapkan pola tanam yang diterapkan dapat direplikasi di lokasi-lokasi lain di Kukar.
“Kita ingin hasil ini menjadi contoh agar bisa diterapkan di daerah lain. Kalau pola tanam ini berhasil, tentu akan meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas secara merata,” jelasnya.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas padi menjadi kunci penting bagi Kukar dan Kaltim untuk menuju swasembada pangan.
“Saat ini kita masih belum swasembada, mudah-mudahan dengan adanya peningkatan hasil seperti ini, target swasembada bisa tercapai lebih cepat,” tegas Taufik.
Lebih jauh, ia juga mendorong agar kolaborasi seperti ini tidak berhenti pada satu atau dua lokasi saja, tetapi diperluas ke kecamatan-kecamatan lain. Dengan begitu, manfaat program dapat dirasakan lebih banyak petani dan masyarakat luas.
“Kami berharap pihak-pihak lain juga ikut berkontribusi dalam pengembangan padi maupun hortikultura di Kukar. Dengan kerja sama dan semangat yang sama, kita bisa mewujudkan ketahanan pangan yang lebih kuat,” pungkas Taufik. (WAN/ADV)










