KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menyambut baik penetapan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal resmi di Kalimantan Timur. Kebijakan tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah arus globalisasi.
Plt. Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, mengatakan penetapan ini tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Kalimantan Timur. “Kita patut bersyukur karena bahasa Kutai dijadikan muatan lokal. Walaupun di Kukar ada banyak bahasa daerah, tetapi yang dipilih sebagai representasi muatan lokal provinsi adalah bahasa Kutai,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Menurutnya, kebijakan ini bukan hanya bentuk penghargaan terhadap budaya lokal, tetapi juga tantangan bagi sekolah untuk mengimplementasikan pembelajaran bahasa Kutai dengan lebih serius. “Kalau sudah masuk muatan lokal, otomatis sekolah harus lebih siap mengajarkan, membina, sekaligus melestarikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski ada berbagai bahasa daerah lain di Kaltim seperti Dayak, Pasir, dan Berau, keberadaan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal resmi menjadi peluang besar untuk memperkuat identitas budaya daerah. “Bahasa daerah itu kan bukan hanya komunikasi, tapi juga identitas kita. Dengan masuk ke sekolah, pelestariannya lebih terukur,” kata Pujianto.
Selain itu, pihaknya juga mengaitkan kebijakan ini dengan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang rutin dilaksanakan. Ajang tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap bahasa ibu, sekaligus menyiapkan generasi muda yang bangga menggunakan bahasa daerah.
“Festival Tunas Bahasa Ibu adalah bukti nyata bagaimana bahasa Kutai tidak hanya dilombakan, tapi juga dipelajari secara berjenjang hingga ke tingkat nasional. Tahun-tahun sebelumnya kita sudah pernah mengirim perwakilan Kukar ke level nasional, dan tahun ini kita targetkan lebih baik lagi,” tambahnya.
Dengan adanya muatan lokal dan kegiatan pembinaan berjenjang, Disdikbud Kukar optimistis bahasa Kutai akan terus bertahan dan berkembang. “Kalau hanya dipakai di rumah, sulit mengukur seberapa jauh keberlanjutannya. Tapi kalau sudah masuk kurikulum sekolah, pelestariannya akan lebih terjaga,” pungkasnya.(IDN/ADV)










