KUKAR, LINGKARKALTIM : Musim kemarau, sektor perikanan di Desa Rempanga, Kecamatan Loa Kulu, menghadapi tantangan besar. risiko kematian ikan sangat tinggi. Kondisi musim kemarau ini sangat mempengaruhi debit dan kualitas air, khususnya di perairan Sungai Mahakam.
Salah seorang pelaku usaha perikanan Nafsiah mengaku, akibat musim kemarau ini ikan di keramba mengalami kematian mencapai 5 Kg setiap harinya.
“Ikan yang mati ini rata-rata yang hampir siap dipanen,” kata Nafsiah pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Jum’at (28/8/2026).
Menurutnya, jika setiap hari ikan di keramba mengalami kematian, pastinya pelaku usaha perikanan mengalami kerugian besar. Sehingga pelaku usaha perikanan ini hanya bisa pasrah, terhadap kondisi faktor alam seperti ini.
“Ikan yang mati ini ukuran sekitar 1 Kg isi 5 ekor, sedangkan ikan siap panen adalah 1 Kg isi 4 ekor. Jadi kalau ikan itu sudah mati, kita pasti rugi,” ucapnya.
Dirinya berharap, pasca kemarau ini adanya perhatian dari pemerintah daerah termasuk bantuan pakan, bibit dan lainnya, guna untuk menutupi kerugian yang dialami oleh pelaku usaha perikanan.
“Biaya operasional yang tinggi di pakan, jika banyak ikan yang mati itu artinya banyak pakan yang terbuang sia-sia,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar Muslik menjelaskan, musim kemarau ini sangat berdampak terhadap pelaku usaha perikanan hingga pembudidaya ikan.
“Sejauh ini kami telah mendapatkan laporan banyak kolam yang mengalami kekeringan. Sehingga terpaksa tidak melanjutkan usaha perikanan,” jelas Muslik.
Adapun yang mengalami dampak tersebut meliputi di sentral perikanan Kecamatan Loa Kulu. Beberapa pelaku usaha dan pembudidaya ikan menyiasati kemarau ini dengan menggunakan sumur bor, yang disedot menggunakan pompa.
“Atau kami menyarankan pelaku usaha perikanan ini, untuk menjual ternaknya lebih awal, agar menghindari risiko kematian,” pungkasnya. (riz)










