BPBD Kukar Kerahkan Tim Siang-Malam Tangani Kebakaran Lahan Gambut di Muara Leka

Proses pemadaman lahan gambut di Desa Muara Leka Kecamatan Muara Muntai oleh BPDB Kukar. (Dok. BPDB Kukar)
Proses pemadaman lahan gambut di Desa Muara Leka Kecamatan Muara Muntai oleh BPDB Kukar. (Dok. BPDB Kukar)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Kebakaran lahan di Desa Muara Leka, Kecamatan Muara Muntai masih menjadi perhatian serius.

Titik api yang terdeteksi sejak 10 Agustus 2026 itu belum sepenuhnya berhasil dipadamkan, terutama karena sebagian kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman hampir satu meter.

Read More
banner 300x250

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara cepat.

Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga berpotensi menjalar melalui akar dan lapisan gambut di bawah tanah.

Koordinator Lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Novan Fahrozi mengatakan penanganan masih dilakukan secara intensif oleh tim gabungan.

Selama tiga hari terakhir, petugas memusatkan perhatian pada salah satu blok yang dinilai paling parah terdampak kebakaran.

“Untuk kondisi sekarang ini, yang kami tangani sudah mulai bisa dikendalikan. Cuma untuk wilayah blok yang lain, kami belum tahu informasinya,” kata dia, Sabtu (22/8/2026).

Ia menjelaskan, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Api yang terlihat sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati karena bara dapat bertahan di dalam lapisan gambut dan kembali muncul ke permukaan.

“Gambutnya hampir satu meter kedalamannya. Dalam satu hari, area yang bisa dipadamkan tidak terlalu luas karena api bisa menjalar dan tetap menyala di bagian akar atau di bawah permukaan tanah,” jelas Novan.

Hingga kini, masih terdapat sejumlah titik api yang belum sepenuhnya padam. Meski demikian, intensitas asap dan kobaran api sudah mulai berkurang setelah petugas melakukan pemadaman secara berkelanjutan.

Penanganan juga dilakukan di kawasan yang terdiri atas hutan dan area Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Lokasi terdampak berada di kawasan perkebunan sawit milik PT JMS di Desa Muara Leka.

Penanganan melibatkan BPBD Kukar, Manggala Agni dan pihak perusahaan.

“Untuk kami, BPBD bersama Manggala Agni bekerja siang dan malam. Dari pagi sampai sore, kami bersama Manggala Agni melakukan pemadaman. Kemudian pada malam hari, pihak perusahaan juga melakukan pemadaman dengan melibatkan para pekerjanya,” ungkapnya.

Novan mengungkapkan, BPBD Kukar menurunkan sebanyak sembilan personel, sementara Manggala Agni menurunkan lima personel.

Secara keseluruhan, berdasarkan hasil rapat koordinasi, jumlah personel yang terlibat dalam penanganan mencapai lebih dari 200 orang, termasuk pekerja perusahaan.

Sejumlah peralatan juga dikerahkan, mulai dari unit tangki berkapasitas 5.000 liter, mesin pompa apung, mesin Tohatsu hingga mobil slip on.

Manggala Agni turut menggunakan mesin pompa untuk membasahi kawasan yang terbakar.

Petugas juga menggunakan foam tipe A untuk membantu mempercepat proses pemadaman, terutama pada material seperti kayu dan vegetasi yang terbakar.

“Kami terus melakukan pemadaman. Mudah-mudahan ada hujan juga sehingga bisa membantu mempercepat proses pemadaman,” kata dia.

Pihaknya pun masih mendalami penyebab kebakaran. Informasi sementara yang diterima dari pihak perusahaa, api diduga bermula dari aktivitas warga yang mencari ikan dengan cara membakar semak di luar kawasan HGU.

“Kemudian, tanpa disadari, api merembet dengan cepat hingga masuk ke wilayah HGU perusahaan,” terang Novan.

Dia menegaskan bahwa informasi tersebut masih sebatas keterangan awal dan belum dapat dijadikan kesimpulan final mengenai penyebab kebakaran.

Fokus utama tim gabungan saat ini adalah memastikan seluruh titik api dapat dipadamkan dan tidak kembali menjalar ke kawasan lainnya.

Kondisi lahan gambut membuat ancaman api kembali muncul tetap tinggi. Bara yang berada di bawah permukaan dapat bertahan meski api di atas tanah telah terlihat padam.

“Proses pemadaman diperkirakan masih membutuhkan waktu. Kami belum dapat memastikan luasan akhir lahan yang terbakar sebelum seluruh kawasan dinyatakan aman,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilakukan melalui koordinasi lintas instansi.

Ia menerangkan, langkah awal dilakukan dengan mengidentifikasi titik-titik api yang menjadi sumber asap dan kebakaran.

Setelah titik ditemukan, tim menentukan metode pemadaman sesuai kondisi dan tingkat keterjangkauan lokasi.

“Ada beberapa metode pemadaman yang dilakukan. Pertama, pemadaman secara langsung ketika itu bisa dijangkau oleh fasilitas kita,” jelas dia.

Ia mengatakan, keterbatasan fasilitas membuat Pemkab Kukar tidak dapat melakukan seluruh metode penanganan secara mandiri, terutama apabila kondisi kebakaran membutuhkan dukungan udara, yakni melakukan pemadaman menggunakan helikopter.

Maka dari itu, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

Koordinasi tersebut dilakukan agar apabila kondisi kebakaran membutuhkan penanganan dengan fasilitas yang lebih besar, dukungan dapat segera diberikan.

“Makanya kami berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan Badan Penanggulangan Bencana Nasional atau Basarnas itu bagaimana ini bisa tertangani,” pungkas Aulia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *