KUKAR, LINGKARKALTIM: Sejumlah pedagang Tangga Arung Square (TAS) tak mampu membayar retribusi lapak atau kiosnya.
Salah seorang pedagang Kuliner TAS Sri mengaku, kondisi pasar saat ini sangat memprihatinkan atau sepi pembeli.
Hal tersebut membuat pedagang berat atau kesulitan, untuk membayar retribusi lapak.
“Dalam sehari belum tentu ada pembeli. Sedangkan kewajiban membayar retribusi ini diperkirakan sehari Rp. 15 ribu,” katanya pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Jum’at (21/8/2026).
Pihaknya menyadari, membayar retribusi ini suatu kewajiban pedagang atas lapak yang digunakan untuk berjualan.
Namun, pemerintah daerah juga perlu menyadari bahwa kondisi perekonomian daerah ini tak stabil.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan atas kewajiban pedagang membayar retribusi ini. Bukannya pedagang tak mau membayar, tapi jika pasar ini ramai pembeli pastinya langusng dibayar,” harapnya.
Dirinya berharap, pemerintah daerah juga dapat berupaya untuk meramaikan TAS. Sehingga target dari pemerintah daerah terhadap sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga bisa tercapai.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang pakaian TAS Rahmat. Ia menyebutkan, retribusi yang dikenakan ini tak mahal. Tapi dengan kondisi pasar yang sepi, para pedagang tak mampu membayar retribusi tersebut.
“Retribusi yang dikenakan ini sekitar Rp. 300 ribu per bulan, tapi kami tak bisa membayar. Setiap ada uang, pasti ada juga kebutuhan lainnya yang lebih penting”, ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Pasar Anwari Fitrah menjelaskan, pemerintah daerah menyadari kondisi pasar TAS ini sepi. Untuk itu, pemenayaran retribusi lapak ini tetap menjadi tanggung jawab pedagang, tapi bisa dibayar dikemudian hari.
“Untuk saat ini kita tak bisa memaksakan para pedagang membayar retribusi, tapi bisa dibayar saat kondisi pasar mulai membaik,” kata Anwari Fitrah.
Ia menegaskan, pungutan retribusi itu nantinya digunakan untuk perawatan TAS. Sehingga aset tersebut terjaga dengan baik dan memberikan rasa aman, nyaman kepada pengungunjung, pedagang dan lainnya. (Kik)










