KUKAR, LINGKARKALTIM: Keterbatasan anggaran daerah membuat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) belum dapat mengalokasikan bantuan bibit bagi petani pada tahun 2026.
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar kini memilih menginventarisasi kebutuhan petani untuk kemudian diusulkan melalui program bantuan pemerintah pusat.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Nazyarudin mengatakan kebutuhan bibit saat ini masih dalam tahap pendataan.
“Untuk bantuan bibit saat ini kami baru melakukan inventarisasi kebutuhan. Selanjutnya akan kami usulkan melalui program Kementerian Pertanian,” ungkap dia, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, tidak tersedianya bantuan bibit melalui APBD Kukar berkaitan dengan kondisi anggaran daerah.
Pembahasan anggaran untuk tahun berjalan telah selesai sehingga tidak terdapat alokasi khusus untuk bantuan bibit.
“Kebetulan untuk program yang bersumber dari APBD, pembahasan anggarannya sudah selesai sehingga tahun ini memang tidak ada alokasi bantuan bibit,” jelas Nazyarudin.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah harus mencari alternatif pembiayaan melalui pemerintah pusat.
Tidak hanya bibit, sejumlah kebutuhan pertanian lainnya juga diupayakan melalui skema bantuan APBN.
“Untuk bantuan alsintan, pupuk, obat-obatan maupun bibit, saat ini kami mengupayakannya melalui bantuan APBN dari pemerintah pusat,” katanya.
Keterbatasan bantuan bibit tersebut dirasakan langsung petani di lapangan.
Suwarman, salah seorang petani di Bukit Biru, mengatakan bantuan sarana produksi pertanian dari pemerintah sebenarnya pernah diterima petani pada tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu ada. Pernah ada bantuan bibit, pupuk dan lain-lain,” kata dia.
Namun, kondisi berbeda dirasakan petani dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau tahun ini belum ada. Sudah hampir tiga tahun belum ada bantuan,” ungkap Suwarman.
Meski demikian, petani tetap berupaya mengusulkan kebutuhan tersebut melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL).
Pihaknya berharap tersebut ddapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun program bantuan untuk musim tanam berikutnya.
“Saat rapat nanti kami berharap musim tanam yang akan datang bisa ada bantuan lagi,” harapnya.
Bagi mereka, bantuan bibit bukan sekadar tambahan, tetapi menjadi salah satu kebutuhan penting untuk memastikan kegiatan budidaya tetap berjalan.
Suwarman mengatakan sebagian petani mulai kesulitan menyediakan benih secara mandiri karena stok yang dimiliki semakin terbatas.
“Sangat diperlukan untuk benih, sekarang banyak petani yang sudah tidak punya lagi,” pungkas dia. (ASR)










