KUKAR, LINGKARKALTIM: Sejumlah petani padi sawah di Loh Sumber mengeluhkan harga hasil panen tak stabil. Pasalnya, hasil pertanian itu dibeli murah oleh tengkulak sekitar Rp. 10-11 ribu per kilogram.
Salah seorang petani Ahmad Nur mengatakan, harga hasil pertanian padi sawah atau beras tak bisa maksimal. Sedangkan harga penjualan beras di pasaran sangat tinggi.
“Ini membuat petani pusing, karena hasil pertanian yang diperoleh dengan operasional sangat tipis,” kata Ahmad Nur pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Senin (6/7/2026).
Ia mengaku, jika terjadi panen raya maka harga penjualan beras menjadi anjlok. Jika beras ini terus disimpan maka akan mengalami kerusakan dan tidak layak dikonsumsi.
“Tantangan menjalankan sektor pertanian ini ialah biaya operasional yang sangat tinggi, sehingga ini membuat petani trauma,” akunya.
Dirinya berharap, untuk panen pertanian ini memiliki harga tetap yang tak berubah. Mengingat kebutuhan operasional pertanian ini juga sangat tinggi, sedangkan beras ini merupakan kebutuhan pokok.
“Kami berharap, pemerintah desa dan pemerintah daerah dapat mencarikan solusi atas harga panen yang tak menentu ini. Meskipun terjadi panen raya, harga panen tetap stabil,” harapnya.
Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar Sayid Fathullah menjelaskan, pemerintah daerah akan melakukan kerja sama dengan Bulog Samarinda, di 2026.
Adapun kerja sama tersebut meliputi, rencana pembangunan gudang Bulog yang nantinya pihak Bulog akan menampung hasil panen pertanian masyarakat lokal.
“Kami telah menawarkan sejumlah lokasi untuk rencana pembangunan gudang Bulog diantaranya, di Desa Kelekat Kembang Janggut, Tenggarong Seberang dan Kelurahan Bukit Biru Tenggarong,” jelas Sayid Fathullah.
“Kami lebih merekomendasikan pembangunan gudang itu berada di Bukit Biru. Karena kalau di Kembang Janggut itu potensinya Kelapa Sawit dan aset di Tenggarong Seberang masih ingin dimanfaatkan,” pungkasnya. (Kik)










