KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemandangan tak sedap sempat menghiasi Taman Tanjong, Tenggarong, hingga viral di media sosial baru-baru ini. Menumpuknya sisa makanan dan sampah yang ditinggalkan pengunjung membuat pihak Dinas Pariwisata (Dispar) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) angkat bicara.
Plt. Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, sangat menyayangkan perilaku oknum pengunjung yang kurang bertanggung jawab tersebut. Menurutnya, urusan kebersihan di Taman Tanjong dan Taman Musik sebenarnya mengandalkan personel yang sangat terbatas.
“Kebersihan area Taman Tanjong dan Taman Musik yang dikelola Dinas Pariwisata sebenarnya kami ‘pinjam’ dari jasa kebersihan Pulau Kumala agar kebersihannya tetap terjaga. Itu pun dengan personel yang sangat terbatas,” ujar Awang Agus, Senin (6/7/2026).
Meski serbuan sampah malam hari cukup merepotkan, Awang memastikan petugas di lapangan selalu bergerak cepat setiap pagi. Ia bahkan sempat menyambangi lokasi pada pukul 06.00 WITA untuk mengecek langsung kondisi taman.
“Ternyata sepagi itu saya datang sudah bersih. Ketika saya tanya petugas keamanan yang jaga, ternyata saat malam hari begitu pengunjung pulang, mereka langsung bekerja membersihkan taman. Pagi harinya, teman-teman petugas kebersihan dari DLHK juga ikut membersihkan area parkir,” tambahnya.
Awang pun mengetuk hati masyarakat Tenggarong untuk menjaga kebersihan kota tercinta.
“Kalau bukan kita semua, siapa lagi yang akan menjaga kebersihan taman dan Kota Tenggarong yang kita cintai ini” pungkasnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, menjelaskan pengelolaan fasilitas publik di Tenggarong memang terbagi di beberapa instansi, mulai dari Dispar, DLHK, hingga Dinas Pekerjaan Umum (PU), karena beberapa proyek belum sepenuhnya selesai serah terima.
Khusus untuk Taman Tanjong, tupoksi pembersihan harian berada di bawah pihak ketiga yang dikelola Dispar, sementara DLHK bertugas membantu pengangkutan sampahnya.
Merespons tumpukan sampah yang sempat viral, Tri Joko mengingatkan bahwa DLHK sebenarnya sudah memfasilitasi tempat sampah tiga warna berukuran besar di area tersebut. Ia berharap masyarakat bisa memulai dari hal yang paling mendasar.
“Tolong bantu kami untuk membuang sampah ke baknya. Ini baru tahap buang sampah pada tempatnya, hal yang paling sepele,” kata Tri Joko.
Menurut Tri, kesadaran lingkungan idealnya harus naik kelas secara bertahap. Mulai dari tertib waktu membuang sampah, memilah sampah sesuai jenis kotak (merah, kuning, hijau), hingga akhirnya mampu mengolah sampah menjadi sumber rupiah.
“Mohon untuk hal dasar yang paling sepele dulu, buang sampah pada tempatnya, ayo kita laksanakan Nanti perlahan kita lanjut ke tahapan berikutnya untuk memilah dan memanfaatkan sampah biar bisa jadi rupiah,” tutupnya optimis. (Dil)










