KUKAR, LINGKARKALTIM: Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) saat ini tengah gencar mengejar target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak hotel dan penginapan. Hingga pertengahan tahun ini, realisasi keseluruhan pajak hotel di Kukar baru menyentuh angka 43%, atau sekitar Rp643,1 juta dari total target yang ditetapkan sebesar Rp1,5 miliar.
Angka capaian tersebut disumbang oleh piutang tahun sebelumnya sebesar Rp25,6 juta dan setoran tahun berjalan yang sudah masuk sebesar Rp617,5 juta.
Menariknya, di tengah melambatnya setoran dari hotel-hotel besar, sektor akomodasi jenis cottage justru mencatatkan lonjakan yang fantastis. Dari target yang awalnya hanya dipatok sebesar Rp15 juta, realisasi cottage melejit hingga 846% dengan mengumpulkan pundi-pundi sebesar Rp101,3 juta pada tahun berjalan, ditambah sisa tahun sebelumnya sebesar Rp25,6 juta.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Hotel Bintang 3. Diandalkan dengan beban target terbesar mencapai Rp600 juta, sektor ini baru terealisasi 29% atau sebesar Rp173 juta.
Sementara itu, untuk sektor Hotel Melati 3 mencatatkan realisasi 48% (Rp50 juta dari target Rp105 juta). Adapun sektor losmen, penginapan, pesanggrahan, hostel, hingga rumah kos baru mencapai 38% atau sebesar Rp293,2 juta dari target Rp780 juta.
Rendahnya realisasi di beberapa sektor hotel ini ditengarai akibat dinamisnya kondisi usaha di lapangan. Menyikapi hal tersebut, Bapenda Kukar mengaku sedang melakukan kaji ulang dan validasi data terhadap puluhan wajib pajak hotel yang terdaftar.
Kabid Pendaftaran dan Penetapan Bapenda Kukar, Hasnah Badahu, menyebut berdasarkan data sementara, tercatat ada sekitar 92 wajib pajak akomodasi yang tersebar di wilayah Kukar.
“Data sementara yang kami terima ada sekitar 92 hotel yang tersebar di Kukar, dan itu masih kita kaji lagi,” ujar Hasnah, Kamis (11/6/26).
Senada dengan hal tersebut, Fredy Wardana dari Bidang Perencanaan Pengembangan dan Pengawasan Bapenda Kukar membenarkan bahwa timnya kerap menemukan ketidaksesuaian data saat melakukan pengawasan langsung ke lapangan. Kaji ulang ini penting karena status operasional bisnis sering kali berubah dari data administrasi.
“Kami kaji kembali karena biasanya saat sudah terdata dan kita turun ke lapangan, ternyata mereka kadang sudah beralih bisnis. Ada yang tutup, bahkan ada yang buka usaha sarang burung walet,” jelas Fredy.
Melalui langkah monitoring ini, Bapenda Kukar berharap data wajib pajak menjadi lebih akurat sehingga target PAD dapat digenjot maksimal.
“Harapan kita ke depan, para pelaku usaha juga makin sadar untuk membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Di sisi pelaku usaha, lesunya sektor perhotelan memang sangat terasa. Ressy Meinanda N, Sales Executive Hotel Grand Elty Singgasana Tenggarong, menyebut bisnis hotel di wilayah tersebut masih sangat bergantung pada agenda-agenda pemerintah.
“Segmen pasar di Tenggarong ini memang 80% diisi oleh pemerintahan. Jadi, adanya efisiensi anggaran di lingkungan Pemkab sangat mempengaruhi tingkat okupansi kami. Sejak tahun 2025 hingga 2026 ini, penurunan terjadi sangat drastis,” ungkap Ressy, Kamis (11/6/2026).
Untuk menyelamatkan operasional hotel, manajemen Grand Elty gencar memutar otak dengan menambah fasilitas pada paket-paket non-pemerintah, seperti paket gathering, arisan, pesta, business lunch, hingga BBQ party.
Ressy juga menjelaskan hotelnya memiliki 72 kamar dan didukung oleh 67 karyawan.
Demi menghindari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), manajemen memilih kebijakan pengurangan jam kerja. “Kami tidak mengurangi karyawan atau PHK, tapi jam kerjanya saja yang dikurangi agar operasional tetap aman dan mereka tetap bisa bekerja,” bebernya.
Mengingat Hotel Grand Elty Singgasana merupakan salah satu aset daerah milik Pemkab Kukar, Ressy berharap pemerintah bisa kembali memaksimalkan kegiatan-kegiatan dinas di hotel tersebut.
“Harapan kami, Pemkab Kukar bisa memaksimalkan kegiatannya di Grand Elty untuk membantu operasional kami tetap stabil. Semoga di sisa tahun 2026 hingga 2027 nanti ada peningkatan ekonomi, supaya industri perhotelan bisa kembali stabil seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkas Ressy. (Dil)










