BEM Unikarta Kecam Keras Tindakan Kekerasan Oknum Polresta Balikpapan Saat Mahasiswa Melakukan Aksi Mimbar Bebas

Aksi Mimbar Bebas BEM Unikarta bersama Aliansi Rakyat Kaltim di Kabupaten Kukar. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Aksi Mimbar Bebas BEM Unikarta bersama Aliansi Rakyat Kaltim di Kabupaten Kukar. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mengecam keras dugaan tindakan represif yang dilakukan oknum aparat kepolisian saat pelaksanaan aksi mimbar bebas di Balikpapan pada 1 Juni 2026.

Ketua BEM Unikarta, Zulkarnain mengatakan pihaknya tidak hanya menyoroti dugaan kekerasan yang dialami salah seorang mahasiswa Unikarta saat mengikuti aksi di Balikpapan.

Read More
banner 300x250

Menurutnya, insiden tersebut berujung pada robeknya almamater kampus yang dikenakan mahasiswa saat menyampaikan aspirasi.

Bagi kalangan mahasiswa, almamater bukan sekadar seragam organisasi, melainkan simbol identitas dan kehormatan perguruan tinggi.

Oleh karena itu, BEM Unikarta menilai dugaan perobekan almamater dalam peristiwa tersebut sebagai tindakan yang melukai marwah mahasiswa.

“Ini merupakan tindakan yang tidak bermoral. Tindakan yang tidak berempati. Almamater ini merupakan simbol dan kebanggaan yang tidak semestinya untuk dirobek,” tegas dia, Jumat (5/6/2026).

Ia menegaskan bahwa pihaknya memandang serius insiden tersebut karena terjadi saat mahasiswa menjalankan hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat di muka umum.

“Dan kami percaya bahwa seragam-seragam yang dipakai oleh aparat kepolisian hari ini tidak lebih gagah daripada almamater yang hari ini kami kenakan. Maka daripada itu kami sangat mengecam keras tindakan perobekan almamater yang dilakukan oleh oknum kepolisian,” ucap Zulkarnain.

Selain perobekan almamater, BEM Unikarta juga mengungkap adanya dugaan tindakan kekerasan fisik terhadap salah seorang mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun organisasi mahasiswa itu, korban yang bernama Roihan mengalami pencekikan sebelum akhirnya diseret menjauh dari lokasi aksi.

“Informasi yang kami himpun juga bahwa saudara kami itu pada saat sebelum perobekan itu dilakukan sempat dicekek dan tubuhnya juga terasa seperti ditendang,” tuturnya.

Zulkarnain menyebut, peristiwa itu terjadi ketika massa aksi berencana membakar ban sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dalam demonstrasi yang berlangsung di Balikpapan.

“Pada saat itu teman-teman sebagai bentuk kekecewaannya ingin membakar ban, tapi kemudian dihadang. Tiba-tiba dari arah belakang saudara kami atas nama Roihan dicekek dan diseret lumayan jauh, sekitar puluhan meter dari titik aksi,” ungkap dia.

Ia menjelaskan, korban sempat mengalami trauma setelah insiden tersebut. Selain dampak psikologis, mahasiswa yang bersangkutan juga merasakan keluhan fisik pada bagian leher.

“Korban sempat trauma dan merasakan di lehernya ada semacam rasa sakit, tapi alhamdulillah sudah terasa baik sampai hari ini,” kata Zulkarnain.

Meskipun kondisi korban disebut telah membaik, BEM Unikarta menegaskan bahwa hal itu tidak mengurangi keseriusan organisasi mahasiswa dalam menyikapi peristiwa tersebut.

“Bukan berarti kawan kami tidak kenapa-kenapa lalu kami tidak mengambil langkah tegas. Makanya hari ini aksi demonstrasi menjadi bentuk kecaman dan kritik,” sebutnya.

BEM Unikarta berpandangan bahwa tidak boleh ada tindakan kekerasan terhadap warga negara yang sedang menggunakan hak demokratis untuk menyampaikan pendapat.

“Tidak ada satu aturan manapun yang memperbolehkan ataupun memberikan kelonggaran atas tindakan represif terhadap rakyat yang sedang menyampaikan aspirasinya,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *