KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara (Kukar) langsung bergerak cepat merespons keluhan warga terkait temuan jarum pentul di area rumput sintetis Taman Tanjong dan Taman Musik, Tenggarong.
Plt Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dermawan, menyampaikan pihaknya akan menginstruksikan tim kebersihan untuk melakukan inspeksi lapangan secara lebih rutin demi memastikan keamanan pengunjung.
“Insya Allah kita akan lebih rutin lagi inspeksi di lapangan oleh tim kebersihan. Karena untuk saat ini, kedua taman tersebut memang baru di-cover oleh satu tim,” ujar Awang Agus Dermawan, Selasa (2/6/2026).
Selain memperketat pembersihan, Dispar Kukar juga berencana memasang papan imbauan permanen di area taman dalam waktu dekat. Langkah ini diambil agar pengunjung bisa lebih tertib saat menghabiskan waktu di fasilitas publik tersebut.
Beberapa poin yang akan dimuat dalam imbauan tersebut antara lain: Larangan membawa binatang peliharaan ke area rumput sintetis, Larangan merokok di atas rumput sintetis, Larangan membuang sampah sembarangan, terutama benda-benda kecil yang kasat mata namun berbahaya seperti jarum pentul.
“Mudah-mudahan ke depannya tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan. Kita ingin pastikan Taman Tanjong maupun Taman Musik menjadi tempat rekreasi warga yang nyaman dan aman bagi kita semua,” tambah Awang.
Keluhan ini pertama kali mencuat setelah seorang warga Tenggarong, Wied Yanti, membagikan pengalaman mendebarkan saat bertamasya bersama keluarganya di Taman Tanjong pada Minggu (24/5/2026) sore.
Saat asyik bermain menjelang Maghrib, sang anak nyaris saja menginjak sekumpulan jarum tajam yang berserakan di atas rumput.
“Alhamdulillah anak saya tidak sampai ketusuk. Pas dia baru mau menginjak, dia melihat ada jarum-jarum itu di satu tempat. Dia langsung lapor ke saya, akhirnya saya kumpulin dan terkumpul lima jarum pentul,” kenang Wied.
Cemas dengan kondisi tersebut, Wied kemudian mengunggah temuannya ke media sosial. Tak disangka, unggahan itu viral dan mendapat respons serupa dari warga lain yang mengaku menemukan kondisi serupa di Taman Musik, khususnya setelah area tersebut digunakan untuk sebuah acara.
Akibat kejadian ini, Wied mengaku agak waswas untuk membawa anak-anaknya kembali bermain di taman publik untuk sementara waktu. Ia pun memberikan saran konstruktif kepada pihak pengelola agar keamanan taman lebih terjamin.
“Harapan saya, pengelola taman setidaknya sebulan sekali melakukan pembersihan menggunakan magnet di rumput sintetis agar lebih aman. Selain itu, kalau bisa disediakan kotak kritik dan saran di area taman, karena selama ini pengunjung bingung mau melapor ke mana,” pungkas Wied. (Dil)










