Wabup Kukar Tinjau Pilot Project Hydrant Kering, Solusi Penanganan Kebakaran di Kampung Kumuh

Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin bersama Kepala Disdamkarmatan Fida Hurasani saat meninjau uji coba hydrant. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin bersama Kepala Disdamkarmatan Fida Hurasani saat meninjau uji coba hydrant. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menerapkan inovasi baru dalam upaya mitigasi kebakaran di kawasan padat penduduk dan kampung kumuh, melalui penerapan hydrant kering.

Inovasi tersebut ditinjau langsung oleh Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin saat melakukan peninjauan di Jalan Maduningrat, Rabu (7/1/2025).

Read More
banner 300x250

Ia mengatakan, peninjauan tersebut menjadi agenda pertama dari rangkaian kegiatan lapangan yang dilakukannya bersama jajaran terkait.

Hydrant kering yang ditinjau merupakan pilot project pertama yang diterapkan di Kukar.

“Hari ini kita meninjau hydrant kering. Ini pilot project baru yang pertama dibuka di Kutai Kartanegara,” ujar dia.

Ia menjelaskan, sebelumnya Kukar telah memiliki beberapa titik hydrant, tetapi masih mengandalkan tekanan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

“Hydrant yang lama itu menggunakan tekanan air dari PDAM. Ini berpotensi merusak jalur distribusi air ke rumah-rumah warga,” jelas Rendi.

Berangkat dari persoalan tersebut, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar kemudian berinisiatif melahirkan konsep hydrant kering sebagai alternatif yang lebih aman dan fleksibel.

“Dari Damkar kemudian berinisiatif membuat satu pilot project hydrant kering untuk Kutai Kartanegara,” tuturnya.

Menurutnya, sistem hydrant kering bukanlah hal baru secara nasional. Sejumlah kota besar di Indonesia telah lebih dulu menggunakannya sebagai solusi pemadaman kebakaran di kawasan padat.

“Beberapa kota besar di Indonesia sudah menggunakan sistem ini. Insya Allah Kutai Kartanegara juga sepakat untuk menggunakannya ke depan,” kata dia.

Ia menyebut, hydrant kering sangat relevan diterapkan di wilayah kampung kumuh yang tersebar di 20 kecamatan di Kukar.

Kawasan tersebut memiliki karakteristik khusus yang menyulitkan penanganan kebakaran secara konvensional.

“Kampung kumuh itu variabelnya banyak. Mobil pemadam tidak bisa masuk, kendaraan tidak bisa masuk, jalannya gang-gang sempit,” sebut Rendi.

Dalam kondisi seperti itu, lanjut dia, keberadaan titik-titik hydrant menjadi kebutuhan mendesak agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

“Ketika terjadi kebakaran, itu sangat susah ditangani. Dibutuhkan titik-titik hydrant seperti ini,” tegasnya.

Terkait jumlah kampung kumuh, Rendi menyebutkan bahwa klasifikasi kampung kumuh bersifat dinamis dan terus diperbarui setiap tahun berdasarkan sejumlah indikator dan kajian.

“Penetapan kampung kumuh itu setiap tahun di-update. Banyak variabelnya, termasuk penelitian dan kajian teknis,” ujarnya.

Namun secara spesifik, ia mengatakan terdapat lebih dari 30 titik kampung kumuh di Kukar, yang tersebar di berbagai desa.

“Dalam satu desa bisa ada dua titik kampung kumuh, ada juga yang satu, bahkan ada yang tidak ada sama sekali,” terang Rendi.

Dia menerangkan, kawasan-kawasan tersebut menjadi wilayah yang paling rawan ketika terjadi musibah kebakaran karena tingkat kepadatan penduduk yang tinggi.

“Ini wilayah yang membuat kita cemas dan was-was ketika terjadi musibah,” katanya.

Pemkab Kukar saat ini telah memiliki empat unit mesin hydrant kering yang siap digunakan.

Namun, pengembangannya masih dilakukan secara bertahap karena keterbatasan pada komponen pendukung.

“Mesinnya sudah ada, yang di tepi sungai itu, tapi pipa nitrasi atau pipa hydrant-nya memang mahal,” ungkap dia.

Oleh karena itu, pemasangan jaringan pipa hydrant akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.

“Pipa hydrant ini yang kita usahakan secara bertahap,” pungkas Rendi. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *