Regenerasi Petani Jadi Tantangan Kukar

Kepala Distanak Kukar Muhammad Taufik. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
Kepala Distanak Kukar Muhammad Taufik. (Lingkar Kaltim/M. As'ari)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Regenerasi petani menjadi salah satu persoalan yang kini membayangI sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Minimnya tenaga muda yang tertarik bekerja di bidang pertanian serta menurunnya jumlah penyuluh aktif berpotensi menghambat produktivitas dan inovasi di tingkat desa.

Read More
banner 300x250

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik menyebutkan bahwa sebagian besar penyuluh yang saat ini bertugas sudah mendekati usia pensiun.

“Bahkan ada yang akan segera pensiun. Tantangan regenerasi ini nyata, baik untuk petani maupun penyuluh,” ungkap dia, Jumat (21/11/2025).

Data Distanak Kukar menunjukkan terdapat 127 penyuluh aktif, termasuk 26 orang berstatus PPPK.

Namun, angka tersebut masih jauh dari mencukupi untuk mendampingi ratusan kelompok tani yang tersebar di 20 kecamatan.

Secara ideal, satu penyuluh menangani sekitar 18 kelompok tani. Namun, di lapangan, sebagian penyuluh harus merangkap tugas di lebih dari satu desa bahkan beberapa wilayah sekaligus.

Ketidakseimbangan ini berdampak pada turunnya kualitas pendampingan, terutama saat petani dihadapkan pada tantangan seperti perubahan iklim, serangan hama, atau kebutuhan adaptasi teknologi pertanian.

Kekurangan penyuluh lapangan (PPL) membuat Distanak Kukar mengandalkan penyuluh pertanian swadaya (PPS), yaitu petani aktif yang memiliki kapasitas memberikan pembinaan.

PPS dinilai lebih dinamis karena memahami persoalan lapangan secara langsung.

Mereka juga lebih dekat dengan komunitas petani sehingga proses transfer pengetahuan berlangsung lebih cepat.

Namun, Taufik mengakui masih banyak keterbatasan dalam pemberdayaan PPS.

“Pemerintah daerah hanya mampu memberikan pelatihan serta pengakuan formal agar mereka tetap termotivasi,” jelasnya.

Minimnya anggaran menyebabkan PPS belum dapat difasilitasi secara penuh, mulai dari insentif, dukungan operasional, hingga akses peningkatan kapasitas lanjutan.

Masalah regenerasi tidak hanya terjadi pada penyuluh, tetapi juga pada pelaku utama, yakni petani muda.

Perubahan pola pikir generasi milenial dan Gen-Z, yang lebih memilih pekerjaan di sektor industri perkotaan, menyebabkan jumlah petani baru terus menurun.

Banyak lahan pertanian juga beralih fungsi karena tidak ada ahli waris yang mau meneruskan usaha.

Taufik menilai perlunya pendekatan baru untuk menarik minat anak muda kembali ke sektor pertanian, terutama melalui penguatan pendidikan vokasi pertanian,

pemanfaatan teknologi dan mekanisasi yang lebih modern, dukungan pembiayaan usaha tani, serta jaminan pasar bagi komoditas lokal.

Taufik menegaskan bahwa regenerasi tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Selain menambah tenaga penyuluh baru, harus ada sistem pembinaan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Tanpa regenerasi, kita bisa kehilangan banyak pengetahuan lapangan. Saatnya semua pihak bekerja sama menciptakan pertanian yang berkelanjutan,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *