KUKAR, LINGKARKALTIM: Sektor pertanian di Kecamatan Kembang Janggut masih tertinggal dibandingkan perkebunan kelapa sawit. Sebagian besar masyarakat lebih memilih bekerja di sektor perkebunan karena hasilnya lebih menjanjikan dan rutin, sementara minat untuk bertani masih rendah.
Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan hanya sekitar 2 hingga 5 persen warga di wilayahnya yang masih menggeluti pertanian, terutama di Desa Genting Tanah. Rendahnya minat tersebut salah satunya disebabkan kondisi lahan yang sebagian besar merupakan lahan gambut dengan tingkat keasaman tinggi.
“Lahan gambut memerlukan perlakuan khusus dan biaya operasional yang besar. Kalau tidak ada pendampingan dari tenaga ahli atau penyuluh yang berpengalaman, hasil pertanian sulit optimal,” jelas Suhartono, Jumat (31/10/2025).
Ia menambahkan, masyarakat cenderung memilih perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih menjanjikan dari sisi ekonomi.
“Sawit memang butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk berbuah, tapi setelah itu dua minggu sekali bisa panen. Kalau padi, harus menunggu tiga bulan dulu baru bisa panen,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah kecamatan tetap berupaya menghidupkan kembali semangat bertani dengan mendorong pendampingan dari PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan).
“Kami berharap ada contoh pertanian yang berhasil di wilayah kami. Jika ada percontohan yang nyata, masyarakat pasti akan termotivasi untuk kembali menanam padi,” tambahnya.
Suhartono juga menegaskan perlunya dukungan nyata dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar agar pengembangan lahan gambut bisa dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara, Muhammad Taufik, menyebut pihaknya terus berupaya memberikan solusi terhadap tantangan pertanian di daerah dengan kondisi tanah sulit.
“Kami memahami bahwa lahan gambut membutuhkan perlakuan khusus. Karena itu, Distanak akan memperkuat pendampingan bagi petani serta menyalurkan bantuan benih unggul dan sarana produksi pertanian,” kata Taufik.
Ia menjelaskan bahwa tahun depan pihaknya akan memprioritaskan program demo plot (lahan percontohan) di beberapa kecamatan untuk menunjukkan bahwa pertanian di lahan gambut tetap bisa menghasilkan bila dikelola dengan benar.
“Kami ingin menunjukkan langsung bahwa lahan gambut bisa produktif. Dengan percontohan ini, kami berharap petani lebih percaya diri untuk menekuni kembali sektor pertanian,” tambahnya.
Taufik juga menegaskan bahwa Distanak siap bekerja sama dengan pemerintah kecamatan dan kelompok tani untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan berbasis teknologi sederhana dan ramah lingkungan.
“Pendampingan yang berkesinambungan adalah kunci. Kami tidak hanya ingin memberi bantuan, tapi juga membangun pola pikir petani agar lebih adaptif terhadap kondisi lahan mereka,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, penyuluh, dan masyarakat, diharapkan sektor pertanian di Kecamatan Kembang Janggut bisa kembali tumbuh. Program percontohan dan pendampingan lapangan menjadi langkah penting agar masyarakat melihat langsung potensi pertanian yang sesungguhnya, meski di tengah dominasi perkebunan sawit. (WAN/ADV)










