KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berinovasi dalam menumbuhkan kreativitas serta literasi digital di kalangan pelajar, salah satunya melalui kegiatan Festival Film Dokumenter Jenjang SMP.
Kegiatan yang tahun ini digelar untuk pertama kalinya dengan melibatkan siswa dari berbagai sekolah di Kukar itu berlangsung di Aula Serbaguna Disdikbud pada Senin (6/10/2025).
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pengenalan dan edukasi kepada generasi muda agar memanfaatkan teknologi secara positif dan kreatif.
“Tujuan dari kegiatan ini pertama-tama kita ingin mengenalkan dan mengedukasi siswa-siswa, khususnya SMP, tentang teknologi informasi. Mereka setiap hari akrab dengan gadget, dan melalui festival film ini, kami ingin mengarahkan mereka agar bisa menggunakan gadget itu untuk berkarya,” ucap dia.
Di era serba digital seperti saat ini, siswa perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi pencipta konten positif yang mengangkat nilai budaya dan kearifan lokal.
Festival film dokumenter ini diikuti oleh 13 sekolah yang berasal dari berbagai kecamatan di Kukar, di antaranya Loa Kulu, Muara Muntai, Tenggarong, dan Tenggarong Seberang.
Setiap sekolah mengirimkan tim yang terdiri dari para siswa dan guru pembimbing untuk menghasilkan karya film pendek bertema budaya lokal.
Ia menyebut bahwa sebelum pelaksanaan festival, para peserta terlebih dahulu mengikuti workshop pembuatan film.
“Sebelum mereka membuat film, diberikan dulu pendidikan tentang cara membuat film. Workshop ini penting agar mereka punya dasar teknis dan mampu menuangkan ide mereka secara visual,” kata Puji.
Workshop tersebut tidak hanya mengajarkan aspek teknis seperti pengambilan gambar dan penyuntingan, tetapi juga bagaimana membangun narasi yang kuat dan bermuatan nilai budaya.
Lebih dari sekadar kompetisi, dia menegaskan bahwa kegiatan ini juga memiliki tujuan strategis dalam bidang kebudayaan.
Melalui proses pembuatan film dokumenter, siswa didorong untuk menelusuri, merekam, dan memahami kembali kekayaan budaya daerahnya.
“Salah satu yang menjadi tujuan adalah agar mereka menaruh perhatian terhadap kebudayaan. Ketika mereka merekam, otomatis mereka belajar tentang adat dan tradisi kita. Itu kemudian mereka tuangkan dalam bentuk visual dan film,” jelasnya.
Puji menilai, dengan terlibat langsung dalam proses dokumentasi budaya, para pelajar tidak hanya belajar teknologi, tetapi juga membangun rasa cinta terhadap identitas daerah mereka sendiri.
Melalui festival ini pula, Disdikbud Kukar berharap akan muncul bibit-bibit sineas muda yang mampu mengembangkan dunia perfilman di daerah, sekaligus menjadi agen pelestari budaya.
“Kami ingin memantapkan pengetahuan mereka tentang dunia sinema, bahwa mencoba hal baru itu tidak mustahil,” pungkas dia. (Asr/Adv)










