KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemkab Kukar melakukan rapat finalisasi persiapan pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026. Seluruh rangkaian kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 27 September 2026 berjalan sesuai rencana.
Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa mereka memastikan seluruh pihak yang terlibat memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing sebelum rangkaian Erau dimulai.
“Kami memimpin langsung proses rapat ini untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan baik dan lancar,” ucap dia, Selasa (15/9/2026).
Ia mengatakan, Erau memiliki kedudukan penting bagi masyarakat Kukar karena menjadi salah satu ruang untuk mempertahankan adat, istiadat, dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Melalui kegiatan Erau ini, kita menjaga adat, istiadat, dan budaya warga masyarakat Kukar,” ujar Aulia.
Karena itu, dia ingin agar persiapan tidak hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.
Seluruh pihak harus memberikan dukungan agar pelaksanaan selama sepekan tersebut dapat berjalan lancar.
“Oleh karenanya, kami ingin memastikan seluruh rangkaian kegiatan ini berjalan dengan baik, dengan lancar, dan didukung oleh seluruh pihak,” katanya.
Aulia berharap tidak ada kendala berarti selama pelaksanaan Erau, baik dalam rangkaian kegiatan sakral maupun kegiatan seremonial.
“Sehingga pada saat pelaksanaannya nanti, dari tanggal 20 sampai 27 itu bisa berjalan dengan baik. Dan mudah-mudahan, tidak ada kendala yang berarti satupun untuk pelaksanaan kegiatan Erau ini,” tutur dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan Erau Adat Kutai 2026 memiliki tantangan berbeda dibanding pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya.
Perbedaan tersebut salah satunya karena Erau telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN).
Dengan demikian, penyelenggaraan tidak hanya dinilai dari keberlangsungan kegiatan, tetapi juga dari kualitas pengelolaan event secara keseluruhan.
“Ada standar dan target tertentu yang diminta oleh kementerian dan harus kita penuhi,” jelas dia.
Salah satu standar yang menjadi perhatian adalah pengelolaan lingkungan. Besarnya jumlah kegiatan dan masyarakat yang terlibat berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah besar sehingga penanganannya harus dipersiapkan sejak awal.
“Misalnya dalam proses pelaksanaan, bagaimana kegiatan ini tidak menimbulkan sampah di mana-mana. Penanganan sampah harus dipersiapkan dengan baik,” jelas Heriansyah.
Persiapan juga mencakup aspek keselamatan. Berbagai potensi kejadian yang dapat mengganggu pelaksanaan Erau harus diantisipasi melalui mitigasi risiko.
“Kemudian, apabila dalam proses pelaksanaan terjadi bencana, harus dibuat mitigasi risiko,” bebernya.
Tidak berhenti pada aspek teknis, Pemkab Kukar juga dituntut memastikan Erau memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
“Itu harus bisa diukur,” kata dia.
Ia menyebut bahwa saat ini persiapan fisik untuk rangkaian kegiatan sakral Erau saat ini telah mencapai hampir 90 persen.
“Bahkan pra-Erau, Ayahanda Sultan sudah melakukan beberapa rangkaian acara,” ungkap Heriansyah.
Salah satunya berupa ziarah ke makam para raja dan Sultan yang berada di kompleks Museum Mulawarman. Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Desa Kutai Lama.
“Hari ini juga tadi dilaksanakan prosesi Besawai. Semua kegiatan sakral diikuti oleh Sultan Aji Muhammad Arifin, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-21,” pungkas dia. (ASR)










