KUKAR, LINGKARKALTIM: Delapan tahun perjalanan Pasukan Amal Soleh (Paskas) Kukar dalam menjalankan Gerakan Infaq Beras menjadi bagian dari upaya membantu memenuhi kebutuhan pangan bagi para santri Pondok pesantren (Ponpes), penghafal Alquran, hingga anak-anak yatim di berbagai lembaga sosial dan pendidikan keagamaan.
Memasuki usia ke-8, Paskas Kukar tidak hanya membawa semangat untuk terus memberikan manfaat, tetapi juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan donasi.
Penurunan donasi sejak awal 2026 membuat jumlah beras yang dapat disalurkan kepada pondok pesantren dan panti asuhan ikut mengalami penurunan.
Pembina Paskas Kukar, Wahidah, mengatakan pihaknya berharap momentum ulang tahun ke-8 dapat menjadi penguat semangat seluruh anggota untuk terus bergerak memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Semoga Paskas semakin banyak memberi manfaat lagi, keberkahannya lebih banyak dan abang kakak Paskas lebih solid,” kata dia, Sabtu (12/9/2026).
Ia menjelaskan, salah satu target utama Paskas ke depan adalah meningkatkan jumlah donatur atau yang selama ini disebut sebagai orang tua asuh.
Bertambahnya orang tua asuh tentu dapat meningkatkan kembali perolehan beras yang nantinya disalurkan kepada penerima manfaat.
Terlebih, perjalanan Paskas pada 2026 tidak sepenuhnya berjalan mudah. Pasalnya, sejak awal tahun terjadi penurunan donasi yang cukup terasa.
“Sejak 2026 ini dari awal kami mengalami penurunan donasi. Mungkin karena efisiensi seperti itu ya. Jadi orang tua asuh juga mungkin agak lebih menghemat untuk pengeluaran mereka,” jelas Wahidah.
Kondisi itu membuat sebagian donatur yang sebelumnya rutin memberikan infaq kini harus menyesuaikan kemampuan.
Donasi tetap berjalan, tetapi tidak selalu dalam jumlah dan frekuensi yang sama seperti sebelumnya.
“Jadi mereka yang biasanya rutin itu sekarang kalau ada uang baru bisa berinfaq. Terdampak sih efisiensi yang kita alami sekarang,” ungkapnya.
Penurunan donasi tersebut berdampak langsung terhadap kapasitas penyaluran Paskas Kukar.
Sebelum mengalami penurunan, Paskas dapat menyalurkan sekitar 8 hingga 9 ton beras setiap bulan.
“Sekarang 2 ton atau 2 ton lebih saja capaiannya,” tutur dia.
Dengan kondisi tersebut, Paskas Kukar harus melakukan efektivitas dalam pendistribusian.
Sistem penyaluran kemudian diatur secara bergilir agar bantuan tetap dapat menjangkau pondok-pondok yang menjadi penerima manfaat.
Jika sebelumnya suatu pondok dapat memperoleh bantuan setiap bulan, kini penyaluran dilakukan secara bergantian.
Dengan pola tersebut, keterbatasan donasi tidak membuat seluruh penerima manfaat kehilangan dukungan.
“Kita bergilir supaya pondok-pondok itu masih tersupport seperti itu,” terang Wahidah.
Selama perjalanannya, Paskas Kukar pernah menyalurkan bantuan kepada sekitar 100 pondok pesantren, rumah tahfiz, dan panti asuhan.
Jangkauan tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Tenggarong, Tenggarong Seberang, Loa Kulu, Muara Badak, dan Kota Bangun.
“Dulunya sebelum donasi berkurang, kami menyerahkan kepada sekitar 100 pondok pesantren, rumah tahfiz, dan panti asuhan di Kukar,” bebernya.
Dari sekitar 100 lembaga, saat ini Paskas hanya mampu menjangkau sekitar 45 hingga 50 pondok.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya ketergantungan program terhadap keberlanjutan partisipasi para donatur.
Semakin besar dukungan yang terkumpul, semakin luas pula jangkauan bantuan yang dapat diberikan kepada lembaga-lembaga yang membutuhkan.
Dalam menentukan penerima manfaat, Paskas Kukar tidak menyalurkan bantuan secara sembarangan.
Ada sejumlah kriteria yang menjadi pertimbangan sebelum sebuah pondok pesantren mendapatkan dukungan.
Wahidah menjelaskan, prioritas diberikan kepada pondok yang menampung banyak santri penghafal Alquran dan anak yatim.
“Kemudian biaya kontribusi santri kadang-kadang kan banyak yang gratis ya, jadi kami utamakan seperti itu. Yang tidak meminta bayaran kepada santrinya, itu yang kami utamakan,” jelas dia.
Di tengah tantangan penurunan donasi, Paskas Kukar terus membuka berbagai akses bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam Gerakan Infaq Beras.
Wahidah mengatakan masyarakat dapat datang langsung ke kantor Baitul Malmunzah Indonesia di Jalan Naga, Gang Haji Sabri, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong.
Selain itu, donasi juga dapat dilakukan melalui transfer rekening.
Lalu, bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk datang maupun melakukan pengiriman sendiri, Paskas juga menyediakan layanan penjemputan donasi.
Masyarakat cukup menginformasikan kepada admin Paskas agar infaq yang hendak diberikan dapat dijemput oleh tim.
Dengan berbagai pilihan tersebut, Paskas berharap semakin banyak masyarakat yang dapat terlibat sebagai orang tua asuh dan ikut menjaga keberlangsungan bantuan beras bagi para santri dan anak-anak yatim.
Sementara itu, Sekda Kukar, Sunggono mengapresiasi perjalanan Paskas yang telah memasuki tahun ke-8.
Ia menyampaikan terima kasih atas kontribusi Paskas dalam membantu pembangunan umat, khususnya melalui pemenuhan kebutuhan beras.
“Baik untuk pondok pesantren, kemudian juga rumah santri, termasuk juga rumah yatim piatu dan panti asuhan,” ucap dia.
Menurutnya, keberadaan Paskas menjadi bagian dari gerakan sosial yang membutuhkan konsistensi dan dukungan banyak pihak.
Ia juga berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak menjadi bagian dari gerakan Paskas, sehingga kebutuhan beras bagi pondok pesantren di Kukar dapat semakin terpenuhi.
“Mudah-mudahan mereka tetap istiqomah dan diberikan kekuatan dan semakin banyak orang baik yang mau membersamai Paskas ini. Sehingga kebutuhan beras bagi semua pondok pesantren yang ada di Kukar bisa semakin terpenuhi dari waktu ke waktu,” pungkas Sunggono. (ASR)










