KUKAR, LINGKARKALTIM: Target perolehan medali emas cabang olahraga (cabor) dayung Kutai Kartanegara (Kukar) pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 menghadapi tantangan serius. Minimnya peralatan latihan membuat sekitar 50 atlet harus berbagi perlengkapan, sehingga waktu latihan efektif di atas air hanya sekitar satu hingga dua jam.
Kondisi ini dikhawatirkan menghambat persiapan atlet dayung Kukar yang diproyeksikan tampil di Porprov 2026 di Kabupaten Paser. Padahal, pada Babak Kualifikasi (BK) Porprov sebelumnya, tim dayung Kukar mampu menunjukkan performa menjanjikan dengan meraih lima medali emas, empat perak, dan sembilan perunggu.
Pelatih cabor dayung Kukar, Lusdiansyah, mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk menatap Porprov 2026. Namun, prestasi itu belum sepenuhnya ditopang ketersediaan sarana latihan yang memadai.
“Pada BK Porprov kemarin, atlet dayung Kukar berhasil meraih lima medali emas, empat perak, dan sembilan perunggu. Namun, capaian tersebut diraih dengan kondisi peralatan yang sangat terbatas,” ujar Lusdiansyah, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, persoalan peralatan menjadi krusial karena dayung merupakan olahraga yang sangat bergantung pada perlengkapan latihan. Kayak, kano, hingga stand up paddle (SUP) dibutuhkan untuk menunjang persiapan atlet, terutama pada nomor-nomor yang akan dipertandingkan di Porprov.
Saat ini, peralatan yang tersedia harus digunakan secara bergantian oleh puluhan atlet. Akibatnya, kesempatan atlet untuk berlatih di air menjadi terbatas.
“Idealnya waktu latihan di air bisa mencapai tiga sampai empat jam. Namun karena keterbatasan alat, latihan efektif hanya satu hingga dua jam,” jelasnya.
Lusdiansyah menilai situasi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan latihan, tetapi dapat berpengaruh terhadap kualitas pembinaan dan kesiapan atlet saat menghadapi pertandingan.
Terlebih, Kukar memiliki potensi untuk meningkatkan perolehan medali. Dari sisi sumber daya manusia, cabor dayung telah didukung atlet potensial serta pelatih yang memiliki pengalaman di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), hingga tingkat nasional.
“Kami optimistis bisa meningkatkan perolehan medali. Jika peralatan memadai, bukan tidak mungkin Kukar mampu bersaing di papan atas Porprov 2026,” katanya.
Karena itu, pihaknya meminta dukungan pemerintah daerah untuk segera memperkuat fasilitas latihan cabor dayung. Pengadaan peralatan dinilai menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar persiapan atlet tidak terkendala hingga menjelang pelaksanaan Porprov.
Pengurus cabor dayung Kukar juga telah mengusulkan kebutuhan peralatan melalui forum ekspos bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
Lusdiansyah menegaskan, kebutuhan tersebut tidak harus berupa peralatan mahal atau impor. Yang terpenting, perlengkapan yang tersedia memenuhi standar pertandingan dan dapat digunakan secara optimal untuk meningkatkan intensitas latihan.
“Tidak harus peralatan mahal atau impor. Yang terpenting memenuhi standar dan mampu menunjang latihan secara maksimal. Target kami minimal bisa meningkatkan raihan medali emas di Porprov 2026,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua KONI Kukar, Charil Anwar, mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi untuk memastikan kesiapan seluruh cabor menghadapi Porprov 2026.
KONI Kukar telah berkoordinasi dengan DPRD Kukar, Dispora, serta masing-masing cabor untuk memetakan berbagai kebutuhan, mulai dari atlet dan ofisial, akomodasi, konsumsi, hingga peralatan pertandingan.
“Kami sudah melakukan pertemuan dengan Ketua DPRD Kukar dan mendapatkan respons positif. Dalam pertemuan itu, kami menyampaikan gambaran persiapan Porprov, termasuk kebutuhan atlet dan ofisial, akomodasi, konsumsi, hingga peralatan pertandingan,” ujar Charil.
Ia memastikan KONI Kukar akan terus mengawal persiapan tersebut agar kebutuhan setiap cabor dapat ditindaklanjuti.
Bagi cabor dayung, pemenuhan peralatan kini menjadi salah satu faktor penting. Sebab, di tengah ambisi mempertahankan sekaligus meningkatkan raihan medali, atlet justru masih dihadapkan pada keterbatasan perlengkapan untuk berlatih secara maksimal.
Porprov 2026 pun menjadi momentum pembuktian apakah potensi besar dayung Kukar dapat dikonversi menjadi tambahan medali, atau justru terkendala oleh persoalan sarana latihan.(ahk)










