KUKAR, LINGKARKALTIM: Kehadiran Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, di Gedung D12 FISIP Universitas Mulawarman (Unmul) pada Sabtu (10/10/2026) menyedot perhatian para mahasiswa Program Magister Administrasi Publik.
Hadir sebagai Dosen Tamu, Bupati Aulia membedah resep rahasia Pemkab Kukar dalam mengelola keterbatasan fiskal tanpa mengorbankan kualitas pelayanan publik.
Dalam perkuliahan tersebut, Bupati Aulia menegaskan bahwa prinsip pengelolaan anggaran daerah sebenarnya sangat sederhana.
“Kalau di pemerintah itu, uang banyak habis, uang sedikit cukup. Biaya operasional akan selalu habis sebanyak apa pun anggaran yang ditaruh,” ujarnya.
Prinsip itulah yang mendorong Pemkab Kukar merombak total struktur belanja dalam setahun terakhir. Dengan menghitung secara mendalam biaya riil fiksasi seperti listrik, air, dan alat tulis kantor (ATK), Pemkab Kukar sukses memangkas belanja operasional dari yang semula hampir Rp1 triliun menjadi tidak lebih dari Rp300 miliar.
Efisiensi besar hingga Rp700 miliar ini berhasil dicapai dengan membenahi pola hidup dinas, bukan mengganggu hak wajib para ASN.
Perjalanan dinas ke kecamatan yang dulu memboyong rombongan kini cukup diwakili 1–2 orang. Rapat-rapat rutin dan koordinasi dengan para camat pun mengandalkan Zoom tanpa menguras anggaran konsumsi.
Penghematan fantastis tersebut kemudian dialihkan untuk memperkuat belanja modal dan program yang langsung menyentuh masyarakat, salah satunya program unggulan RT KU Terbaik. Melalui program ini, pemerintah memastikan pemenuhan layanan kesehatan, perbaikan rumah bocor, hingga penyediaan guru ngaji di tingkat RT.
Uniknya, Bupati Aulia yang berlatar belakang dokter mengungkapkan bahwa pendekatan analisis medis sangat membantu dalam merumuskan kebijakan publik.
“Cara berpikir dokter itu tidak mungkin memberi solusi kalau tidak tahu masalahnya. Kami harus anambesis, periksa fisik, cek laboratorium, baru ambil diagnosa. Cara berpikir inilah yang kami tarik ke ranah kebijakan publik,” jelasnya.
Tak lupa, ia juga menekankan pentingnya government branding dan peran jurnalis untuk menyampaikan capaian pembangunan guna membangun trust (kepercayaan) publik, serta peran strategis akademisi FISIP dalam mengawal regulasi.
Pemaparan ini menuai apresiasi hangat dari peserta kuliah umum. Jemi Irlanda Haikal, mahasiswa semester 1 Magister Administrasi Publik, mengaku terkesan dengan terobosan tersebut.
Menurutnya, keberhasilan menghemat anggaran hingga ratusan miliar di tengah pengurangan transfer pusat tanpa mengurangi kualitas pelayanan dasar adalah langkah yang sangat menginspirasi.
“Apa yang disampaikan oleh Bapak Bupati Aulia Rahman basri itu sangat menarik. Apalagi terkait dengan kebijakan-kebijakan yang ada di Kukar. Salah satunya seperti dalam pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, mampu menghemat APBD hingga 700 Miliar,” tutupnya. (Adv/dil)










