Pemkab Kukar Terus Bergerak Tangani Masalah Pertanian di Musim Kemarau Panjang

Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri didampingi Rektor Unikarta Prof. Ince Raden. (M. As'ari/Lingkar Kaltim)
Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri didampingi Rektor Unikarta Prof. Ince Raden. (M. As'ari/Lingkar Kaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM:Pemkab Kukar terus memperkuat penanganan sektor pertanian di tengah musim kemarau panjang yang mulai mengancam ketersediaan air bagi lahan persawahan.

Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa pemerintah daerah masih aktif bergerak di sejumlah wilayah yang menjadi titik rawan kekeringan.

Read More
banner 300x250

Pemantauan dilakukan secara langsung untuk memastikan kebutuhan air bagi persawahan dapat terpenuhi.

“Kita tetap bergerak, penanganan pertanian kita tetap bergerak. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada gagal panen selama proses kekeringan ini,” kata dia, Rabu (26/8/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah kawasan menjadi perhatian khusus karena tanaman padi di wilayah tersebut sudah mendekati masa panen.

Salah satunya kawasan Sungai Payang yang akan kembali dipantau untuk melihat kondisi tanaman sekaligus proses panen.

Pemerintah daerah tidak ingin kondisi kemarau berkepanjangan mengganggu hasil produksi petani yang telah menanam sejak beberapa bulan sebelumnya.

“Hari ini sore nanti saya akan lagi ke Sungai Payang untuk memantau proses, salah satunya proses panen di sana,” ungkap Aulia.

Selain Sungai Payang, pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap sejumlah titik yang dinilai krusial, seperti kawasan Desa Semangkok Kecamatan Marangkayu, hingga Tenggarong Seberang.

“Itu sudah kita pastikan bahwa ini bisa teraliri air dengan baik,” jelasnya.

Aulia menyebut, waktu sekitar satu setengah hingga dua bulan ke depan menjadi periode yang harus dikelola dengan baik.

Sebab, tanaman padi yang saat ini mulai memasuki fase pengisian bulir membutuhkan ketersediaan air agar dapat tumbuh hingga masa panen.

“Karena padi sudah hampir berisi. Nah ini yang ingin kita pastikan bahwa ini bisa kita manage dengan baik,” tegas dia.

Sementara itu, Pengamat Pertanian Kukar, Prof. Ince Raden menilai kondisi kemarau saat ini menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian, khususnya komoditas padi sawah.

Rektor Unikarta itu mengatakan bahwa keberadaan air merupakan faktor yang sangat menentukan keberlangsungan tanaman padi.

Ketika musim kemarau berlangsung panjang, persoalan tidak hanya menyangkut ketersediaan air untuk tanaman, tetapi juga keberlangsungan produksi petani.

“Kondisi saat ini memang challenge-nya sangat luar biasa karena kita mengalami musim kemarau yang sudah cukup panjang. Jelas kalau berhubungan dengan musim kemarau bagi petani, khususnya padi sawah, itu menjadi persoalan yang harus segera ditangani,” kata dia.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang mulai mengoptimalkan berbagai sumber air di sekitar kawasan pertanian.

Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan adalah penyediaan bantuan pompa untuk mengalirkan air dari sumber terdekat menuju jaringan irigasi persawahan.

Selain pompa, pencarian sumber air alternatif juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi tersebut.

Air yang tersedia harus dapat didorong hingga mencapai jaringan tersier sehingga bisa dimanfaatkan langsung oleh petani.

“Banyak program pemerintah memang yang sudah digelontorkan, seperti bantuan pompa, kemudian mencari sumber-sumber air yang terdekat, sehingga aliran air sampai di jaringan tersier itu di petani bisa tersampaikan dengan baik,” harap Ince.

Salah satu potensi sumber air yang dapat dimanfaatkan, lanjut dia, seperti sejumlah kolam bekas aktivitas pertambangan yang berada tidak jauh dari kawasan persawahan.

Menurutnya, pemanfaatan sumber air tersebut menjadi salah satu alternatif yang cukup realistis ketika sumber air alami mulai berkurang akibat kemarau.

“Artinya ada sumber-sumber air eks tambang yang bisa dioptimalkan, digunakan untuk pengairan persawahan. Ini saya pikir salah satu solusi dan itu sudah berjalan dan bisa sedikit memberikan harapan bagi petani-petani,” tuturnya.

Terlebih, sambung Ince, sejumlah tanaman padi saat ini telah memasuki fase generatif.

Pada fase tersebut, kebutuhan air menjadi sangat penting untuk menjaga proses pembentukan dan pengisian bulir hingga menjelang panen.

Karena itu, intervensi pemerintah daerah harus dilakukan secara maksimal selama musim kemarau masih berlangsung.

Penanganan tidak cukup hanya dengan menyediakan sumber air, tetapi juga memastikan distribusinya benar-benar sampai ke lahan petani.

Ia berharap berbagai langkah tersebut mampu menjaga produktivitas pertanian Kukar hingga musim hujan kembali tiba.

“Apalagi yang sudah masuk dalam tahapan fase generatif, tanaman-tanaman padinya. Mudah-mudahan ini bisa dilakukan semaksimal mungkin pada saat musim kemarau. Mudah-mudahan kalau di bulan Oktober sudah datang musim hujan, saya yakin proses pertanian kita bisa berjalan secara lebih normal lagi,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *