KUKAR, LINGKARKALTIM: Pembinaan cabang olahraga gulat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berjalan lintas generasi sejak 1996. Mantan atlet yang pensiun kini berlanjut menjadi pelatih hingga pengurus. Namun, keberlanjutan regenerasi ini masih diganjal keterbatasan sarana dan prasarana dasar.
Sekretaris Pengurus Kabupaten Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (Pengkab PGSI) Kukar, M. Juliharto, mengungkapkan dari segi sumber daya manusia (SDM), kapasitas pelatih gulat Kukar sebenarnya sudah cukup mumpuni.
“Pelatih pelatihan fisik dan dasar gulat sudah ada semua sertifikatnya. Tinggal menambah dan menaikkan grade-nya saja,” ujar Juliharto, Selasa (25/8/2026).
PGSI Kukar terus membuka pembinaan atlet muda dari berbagai tingkatan usia. Mulai dari kategori usia dini (di bawah 10 tahun atau kelas 3–4 SD), kelompok umur (10–12 tahun), kadet (12–15 tahun), junior (16–17 tahun), hingga kelas senior. Untuk kategori senior, tidak ada batasan usia ketat selama atlet masih mampu bertanding, bahkan hingga usia 40 tahun ke atas.
Meski memiliki potensi atlet yang menjanjikan, tantangan utama gulat Kukar terletak pada fasilitas latihan. Saat ini, para pegulat Kukar masih menumpang di Gedung Bela Diri, Kompleks Stadion Rondong Demang, Jalan Tenis Lapangan.
Jadwal latihan yang digelar tiap Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat pun harus bergantian dengan cabang olahraga lain seperti taekwondo.
“Kami belum punya gedung sendiri dan matras cuma ada satu. Padahal ini sudah menjelang Porprov (Pekan Olahraga Provinsi). Kalau hujan, gedungnya sering bocor. Air kena matras jadi licin dan susah buat latihan. Tapi ya kami maksimalkan saja yang ada sambil berharap ada bantuan,” jelas Juliharto.
Kondisi ini turut dikeluhkan oleh atlet gulat Kukar, Dian Putri Rahmaniah. Menurutnya, gulat merupakan salah satu cabang olahraga andalan Kalimantan Timur (Kaltim) yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.
“Latihan dengan satu matras itu rasanya terlalu penuh. Semoga pemerintah bisa melirik untuk membantu seperti menambah matras. Jadi pembinaan ke adik-adik junior bisa lebih maksimal untuk mencetak generasi emas,” harap Dian. (Dil)










