KUKAR, LINGKARKALTIM: PT Tunggang Parangan Kutai Kartanegara (Perseroda) terus memacu performa bisnisnya demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dari total tujuh bidang usaha yang dikelola, sektor transportasi air khususnya layanan pandu dan tunda kapal kini mencuat sebagai kontributor utama sekaligus lini bisnis paling unggul.
Layanan ini beroperasi di bawah dua infrastruktur vital daerah, yakni Jembatan Kutai Kartanegara di Tenggarong dan Jembatan Martadipura di Kota Bangun. Aktivitas pelayaran di koridor ini terbilang sangat padat. Di Tenggarong saja, perusahaan mampu melayani 900 hingga 1.200 kapal tunda dan kapal pandu setiap bulannya.
Plt Direktur Utama PT Tunggang Parangan (TP), Dafip Haryanto, menjelaskan bahwa bisnis ini tumbuh subur karena besarnya volume lalu lintas komoditas andalan Kalimantan Timur, seperti batubara dan crude palm oil (CPO), yang sangat bergantung pada jalur transportasi Sungai Mahakam.
“Faktor strategis lainnya karena jembatan ini adalah aset negara. Hanya TP bersama mitra yang diperbolehkan melayani, sehingga praktis kami memegang posisi monopoli demi menjaga keselamatan pelayaran,” ujar Dafip, Selasa (30/6/2026).
Berkat performa impresif ini, manajemen mematok target finansial yang cukup optimistis untuk tahun buku 2026.
“Untuk pelayanan tunda dan pandu ini, TP membidik omzet di kisaran Rp30 miliar hingga Rp35 miliar pada tahun 2026, dengan potensi laba bersih sekitar Rp4 milar sampai Rp6 miliar,” terang Dafip.
Dafip menambahkan, selain sektor transportasi air, lini bisnis lain yang sudah aktif memberikan kontribusi positif adalah sektor Bisnis dan Layanan Umum melalui pengurusan Rencana Kesiapan Bongkar Muat (RKBM) bersama mitra subkontraktor di PT Multi Harapan Utama (MHU).
Sementara lima sektor lainnya yakni pelabuhan/dermaga, energi baru terbarukan, agribisnis, perikanan, dan pertambangan umum diakuinya belum memberikan kontribusi maksimal.
Kendati agresif mengejar profit, aspek sosial tetap menjadi perhatian utama manajemen.
“Melalui Koperasi KKSO Tunggang Parangan Mulia, Perusda ikut ambil peran menekan inflasi daerah dengan menjual bahan pokok harga miring bagi UMKM binaan. Penyerapan tenaga kerja lokal juga langsung diterapkan pada posisi teknis lapangan, seperti operator radio Pelindo di Kota Bangun dan Muara Muntai. Mereka adalah anak-anak lokal yang kami didik, sekolahkan, dan tempatkan langsung di sana,” tutur Dafip.
Untuk menjaga akuntabilitas, Dafip memastikan operasional perusahaan berjalan di atas koridor hukum yang bersih.
“Setiap triwulan dan semester kami rutin melaporkan kinerja ke Bupati. Untuk transparansi, akhir tahun selalu diaudit akuntan publik, dipantau BPK RI, serta didampingi langsung oleh BPKP,” tegasnya.
Guna mengoptimalkan potensi pendapatan negara dan daerah, layanan di Jembatan Martadipura Kota Bangun resmi ditingkatkan menjadi 24 jam penuh sejak 13 Mei 2026, dari yang sebelumnya hanya beroperasi 12 jam saja. Di titik ini, layanan menyasar 300 hingga 600 kapal tunda serta 600 sampai 900 kapal pandu per bulan.
Supervisor Bidang Bisnis dan Development PT Tunggang Parangan, David R, menjelaskan perubahan operasional menjadi 24 jam ini merespons tingginya aktivitas kolong jembatan di Martadipura, di mana setiap kapal yang melintas wajib mendapatkan pengawalan pandu-tunda demi keselamatan. Langkah ini juga selaras dengan instruksi Kementerian Perhubungan.
“Sebelumnya memang sempat terkendala keterbatasan kapten pandu dari pihak operator (PT Pelindo). Namun, mitra kami telah menambah personel kapten pandu dan alur kerja, sehingga operasional penuh kini berjalan lancar dan ikut mendongkrak pendapatan negara dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),” ungkap David saat diwawancarai terpisah.
Mengenai peluang di Ibu Kota Nusantara (IKN), David R mengakui pada awal perkembangannya, PT Tunggang Parangan sempat dilibatkan oleh Otorita IKN sebagai mitra strategis. Namun, adanya perubahan struktur di internal Otorita IKN membuat komunikasi sempat terhenti.
“Saat ini kami belum mendapatkan informasi perkembangan terbaru terkait keterlibatan langsung di IKN. Ke depan, kami akan coba membangun komunikasi kembali dengan pihak Otorita untuk melihat jasa apa yang bisa kami dukung di sana,” tambah David.
Menariknya, dengan volume bisnis yang besar tersebut, PT Tunggang Parangan ternyata dijalankan secara ramping dan efisien. David menyebut total karyawan saat ini hanya berjumlah 19 orang, sudah termasuk jajaran direksi.
Mengingat Perusda ini sempat mengalami fase sulit beberapa tahun lalu, David berharap tren pertumbuhan positif sejak tahun 2020 lewat jasa pandu-tunda ini bisa terus berlanjut.
“Mudah-mudahan tahun depan kami bisa mengembangkan lini usaha lain. Target kami, Tunggang Parangan bisa semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat kabupaten, tapi juga di tingkat provinsi hingga nasional,” pungkas David. (Dil)










