KUKAR, LINGKARKALTIM: Kabar buruk menimpa sektor pariwisata bahari di Kabupaten Kutai Kartanegara. Destinasi wisata selam unggulan yang ada di perairan Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, terancam kehilangan pesonanya.
Sebanyak 140 meter persegi hamparan terumbu karang yang menjadi magnet bagi para wisatawan dilaporkan rusak parah akibat tergerus aktivitas ponton batu bara.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjung Limau, Muhammad Mansur, membeberkan kerusakan ini langsung memukul para pelaku industri wisata lokal yang selama ini mengandalkan keindahan bawah laut sebagai nilai jual utama paket wisata mereka.
“Kami kemarin mendata ada sekitar 140 meter persegi area yang karangnya rusak. Ini jelas mengkhawatirkan karena proses karang untuk bisa tumbuh kembali itu lama sekali. Dugaannya kuat tergerus ponton batu bara yang melintas, karena waktu kami kibas-kibas karangnya, keluar sisa-sisa hitam sisa batu bara,” keluh Mansur pada Senin (15/6/2026).
Mansur menjelaskan, perairan di desanya sebenarnya menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Pokdarwis setempat bahkan sudah mengeksplorasi dan memetakan 13 titik terumbu karang yang biasa menjadi lokasi penyelaman (diving dan snorkeling) bagi para wisatawan.
Dari belasan titik tersebut, ada dua spot ikonik yang menjadi primadona dan selalu sukses memukau pelancong, yaitu spot KMM dan Coral Garden. Sayangnya, aset wisata yang sangat berharga ini rawan hancur karena area perairan tersebut belum dilengkapi rambu penanda.
“Selama ini kami mengantar wisatawan menyelam ya berdasarkan koordinat 13 titik itu. Makanya kami sangat berharap ada bantuan buoy atau pelampung penanda di permukaan laut, terutama di spot KMM dan Coral Garden. Biar kapal-kapal besar tahu kalau di bawah itu ada surga bawah laut, jadi mereka tidak lewat atau lego jangkar di sana,” harap Mansur.
Sejauh ini, usaha Pokdarwis untuk mengajukan pengadaan rambu penanda tersebut belum membuahkan hasil. Mereka pun mengaku kebingungan harus mengadu ke mana karena urusan regulasi di laut kerap kali rumit.
Kerusakan destinasi wisata bawah laut ini turut memicu perhatian dari Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara. Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Kukar, M. Ridha Fatriantha, mengakui kejadian ini menjadi pukulan bagi ekosistem pariwisata yang sedang dibangun oleh masyarakat setempat.
“Pastinya teman-teman Pokdarwis yang mengelola paket wisata di sana ikut terdampak dan menaruh perhatian besar pada isu ini. Keindahan karang itu kan jualan utama mereka,” kata Ridha saat dihubungi terpisah, Senin (15/6/26).
Meski begitu, Ridha menjelaskan Pemkab Kukar tidak bisa mengintervensi langsung terkait aturan lalu lintas kapal karena kewenangan wilayah laut berada di bawah pemerintah pusat. Solusi jangka pendek yang bisa dilakukan adalah memperkuat benteng pertahanan dari sisi pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism).
“Kewenangan di perairan memang ada di pusat, tapi dari sisi pariwisata kita bisa mendorong aksi dari komunitas lokal. Langkah kecil yang bisa diambil adalah mengajak Pokdarwis bekerja sama dengan lembaga lingkungan hidup untuk terus mengedukasi nelayan agar menjaga karang. Dulu juga pernah ada gerakan penanaman kembali terumbu karang, mungkin aksi-aksi pemulihan destinasi seperti itu bisa digalakkan lagi demi menjaga keberlanjutan wisata kita,” pungkas Ridha. (Dil)










