KUKAR, LINGKARKALTIM: Bisnis kedai kopi dan minuman manis berbasis susu atau boba memang sedang menjamur di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Namun, sebuah langkah berani diambil oleh pelaku UMKM lokal dengan membuka kedai Wedang Setungku. Alih-alih ikut bersaing di pasar kopi yang sudah jenuh, mereka memilih mandiri dan “melawan arus” lewat jalur minuman rempah tradisional.
Kedai yang berlokasi di Jalan Lais, Timbau (tepat di belakang gedung DMI) ini buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga 00.00 WITA. Lewat pendekatan semi-modern, mereka mengemas minuman tradisional agar lebih ramah di mata dan lidah anak muda, termasuk optimalisasi promosi lewat akun Instagram dan Facebook @wedangsetungku.
Pemilik Wedang Setungku, Muhammad Reza, menceritakan bahwa ide bisnis ini awalnya direncanakan sebagai coffee shop. Namun, melihat ketatnya persaingan kedai kopi di Tenggarong, ia dan timnya memutuskan untuk beralih haluan setelah melihat potensi rempah-rempah yang kembali diminati masyarakat.
“Kami coba riset yang baru dan melihat peluang. Oh, ternyata rempah lagi naik daun. Cuma konsepnya kita bikin seperti coffee shop. Dari yang tadinya tradisional, kita bikin semi-modern,” kata Reza, Sabtu (6/6/2026).
Terkait nama “Setungku”, Reza menjelaskan konsep awalnya adalah menggunakan tungku tradisional berukuran besar. Karena kendala ketersediaan alat di lapangan, mereka akhirnya beradaptasi menggunakan tungku gas modern. Dari sanalah nama Wedang Setungku lahir.
Meskipun belum genap satu bulan beroperasi sejak dibuka pada 7 Mei lalu, bisnis kuliner malam ini menunjukkan performa ekonomi yang menjanjikan. Dengan harga menu yang ramah di kantong rata-rata di angka Rp15.000 Wedang Setungku mampu mencatatkan omset rata-rata Rp2 juta per hari.
Bahkan tak hanya minuman tradisional, menu makanan berat dan ringan tersajikan dengan terjangkau.
Reza mengakui, tantangan terbesar dari bisnis ini adalah melawan stigma negatif, terutama di kalangan generasi muda atau Gen Z yang kerap menganggap rempah memiliki rasa yang pahit.
“Mengenalkan rempah ke Gen Z itu tantangan terbesar, karena sudah tertanam stigma kalau rempah itu pahit. Makanya beberapa kali kami coba edukasi ke anak muda kalau rempah itu tidak pahit. Alhamdulillah, responsnya sangat positif, bahkan di luar ekspektasi kami,” jelasnya.
Dari segi pola konsumsi, karakteristik pelanggan wedang juga berbeda dari pengunjung kedai kopi biasa. Mayoritas konsumen datang untuk menikmati kehangatan minuman saat cuaca dingin di malam hari, lalu langsung bergeser (high turnover), tidak bertahan hingga berjam-jam.
Saat ini, menu Wedang Setungku yang berisi racikan tujuh rempah menjadi menu paling laris (signature), disusul oleh Wedang Susu Jahe di posisi kedua.
Selain menggerakkan roda ekonomi kreatif, kehadiran Wedang Setungku juga membawa dampak sosial positif bagi lingkungan sekitar yang Saat ini, Kedai Wedang Setungku mempekerjakan 12 orang karyawan. Menariknya, 90 persen atau 10 orang di antaranya adalah anak-anak muda lokal yang baru saja lulus dari bangku SMA.
Menutup perbincangan, Reza menyebut fokus jangka pendek Wedang Setungku dalam waktu dekat adalah memperluas pangsa pasar dan menambah variasi menu baru berdasarkan hasil evaluasi mingguan demi mengakomodasi keinginan para pelanggan.
“Ya memang ada kepikiran untuk membuka cabang di daerah lain cuma untuk sekarang kita fokus mengembangkan pasar wedang setungku di tenggarong dulu,”tutupnya. (Dil)










