KUKAR, LINGKARKALTIM: Kepedulian terhadap keselamatan bersama mendorong warga Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kukar melakukan perbaikan jalan yang diketahui Berstatus nasional itu secara swadaya.
Kepala Desa Loa Kulu Kota, Mohamad Rizali mengungkapkan bahwa inisiatif perbaikan jalan berawal dari aspirasi warga, khususnya dari Ketua RT 12 yang menerima banyak keluhan terkait kondisi jalan yang rusak dan membahayakan.
“Awalnya dari laporan masyarakat ke RT. Kemudian kami rembuk bersama, dan muncul inisiatif untuk gotong royong memperbaiki jalan tersebut,” ucap dia, Selasa (7/4/2026).
Ia mengatakan, kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup parah, seperti badan jalan yang menurun, abrasi di sisi jalan, hingga tidak berfungsinya drainase, menjadi faktor utama dilakukannya perbaikan secara swadaya.
Bahkan, kondisi tersebut sempat menyebabkan genangan air yang mempercepat kerusakan aspal.
“Air dari atas tidak ada saluran pembuangan, jadi melimpas ke jalan. Itu yang membuat aspal cepat rusak,” jelas Rizali.
Meski berstatus jalan nasional, dia menegaskan bahwa warga tetap berupaya melakukan perbaikan dengan batasan tertentu.
Warga hanya melakukan penambalan di atas permukaan jalan tanpa mengubah struktur utama, guna menghindari pelanggaran kewenangan.
“Kami hanya menambal, tidak mengubah bentuk jalan. Karena ini jalan nasional, tentu ada batasannya,” ungkapnya.
Rizali menyebut bahwa perbaikan dilakukan melalui sistem gotong royong dengan melibatkan partisipasi aktif warga.
Bentuk kontribusi pun beragam, mulai dari sumbangan material seperti semen, hingga tenaga kerja dan dana sukarela.
“Ada yang menyumbang material, ada juga tenaga. Untuk konsumsi dibantu oleh ibu-ibu PKK. Semua dilakukan bersama-sama,” kata dia.
Ia mengatakan, kegiatan gotong royong tersebut telah dilaksanakan selama tiga hari dalam 3 tahap, setiap hari Minggu.
Warga juga berencana melakukan pembenahan pada gorong-gorong yang diduga tersumbat sedimen.
“Gorong-gorongnya akan kami cek lagi, kemungkinan ada endapan sehingga air tidak mengalir dengan baik,” beber Rizali.
Dia menegaskan bahwa langkah swadaya ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap keselamatan pengguna jalan, mengingat telah terjadi beberapa insiden sebelumnya di lokasi tersebut.
“Kalau terus menunggu, takutnya ada korban lagi. Ini jalan yang kami juga gunakan setiap hari, keluarga kami juga lewat di sana,” tegasnya.
Meski demikian, pihak desa tetap berharap adanya penanganan permanen dari pemerintah pusat melalui instansi terkait.
Rizali mengaku telah melaporkan sejumlah titik kerusakan kepada pihak balai, dan respons yang diterima sejauh ini cukup positif.
“Beberapa laporan sudah kami sampaikan, dan alhamdulillah ada respons. Kami berharap ke depan ada penanganan lebih permanen,” sebut dia.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan kondisi jalan rusak kepada pihak berwenang dengan melampirkan data pendukung seperti foto atau video, agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Kalau hanya menunggu, lubang-lubang di jalan itu bisa membahayakan. Jadi minimal ada inisiatif dari warga untuk penanganan sementara,” pungkas Rizali. (ASR)










