KUKAR, LINGKARKALTIM: Fenomena anak-anak yang terlibat dalam aktivitas mengemis hingga menjadi badut jalanan di Kukar kembali menjadi perhatian.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Penanganan Warga Imigran Korban Tindak Kekerasan, Dinsos Kukar, Sunarko menegaskan bahwa penanganan persoalan tersebut dilakukan melalui pendekatan menyeluruh berbasis asesmen sosial.
Ia menjelaskan, setiap anak yang terjaring penertiban akan terlebih dahulu dilakukan asesmen untuk mengetahui latar belakangnya.
“Begitu ditemukan, pasti kami lakukan assessmen. Kenapa dia menjadi badut, kenapa sampai mengemis, apakah benar tidak ada orang tuanya. Karena pendidikan terbaik bagi anak itu ada di keluarga,” ujar dia, Selasa (17/3/2026).
Dari hasil asesmen tersebut, Dinsos Kukar akan menentukan langkah penanganan. Jika anak masih memiliki orang tua atau keluarga, maka akan dikembalikan ke lingkungan keluarganya dengan pendampingan lanjutan.
“Tapi kalau keluarganya bermasalah, kami lakukan pendampingan bersama perangkat desa dan kelurahan,” kata Sunarko.
Dia menegaskan, orang tua tidak diperbolehkan mempekerjakan anak dalam aktivitas di jalan, termasuk menjadi badut atau mengemis.
Namun, dalam praktiknya, terdapat dinamika sosial yang cukup kompleks.
Ia mengungkapkan, ada kasus anak turun ke jalan bukan karena dorongan orang tua, melainkan pengaruh lingkungan pergaulan.
“Ada anak yang diiming-imingi teman dengan HP bagus, akhirnya ikut jadi badut. Saya pernah temui langsung di Pasar Mangkurawang. Saat lihat saya, dia malah lari karena merasa takut,” ungkapnya.
Kasus tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pendekatan persuasif kepada keluarga.
Sunarko mengatakan bahwa Dinsos Kukar juga memberikan peringatan agar anak tidak kembali melakukan aktivitas tersebut.
“Kalau masih mengulangi, kami akan amankan. Itu untuk memberikan efek jera, karena memang anak tidak boleh bekerja di jalan,” tegas dia.
Ia menyebut saat ini keberadaannya cenderung berpindah-pindah atau mobile, meskipun terdapat titik-titik tertentu yang kerap menjadi lokasi aktivitas.
Beberapa titik yang sering ditemukan antara lain kawasan Pasar Tangga Arung, sekitar SPBU Pesut, serta sejumlah ruang publik seperti taman kota.
“Mereka ini mobile, tapi seolah punya ‘kapling’ masing-masing. Yang pasti, di pasar hampir selalu ada,” sebut Sunarko.
Dia mengatakan, fenomena pengemis tidak hanya dipengaruhi faktor kebutuhan ekonomi, tetapi juga adanya respon dari masyarakat, yakni kebiasaan memberi uang.
“Kenapa orang terdorong jadi pengemis? Karena ada yang memberi. Pakai baju badut, dadah ke anak-anak, dapat uang. Itu jadi daya tarik,” bebernya.
Oleh karena itu, Sunarko mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang secara langsung kepada pengemis maupun badut jalanan sebagai salah satu upaya menekan fenomena tersebut.
“Kalau kita ingin menghentikan, ya harus tegas. Jangan memberi. Biar mereka capek sendiri, karena pakai kostum badut itu tidak mudah,” pungkas dia. (ASR)










